Halaman

Ketiak Kritis dari Bandung

Komponen Pesawat Terbang

Istilah flying machine, mesin terbang, sering dipakai sebagai kata ganti plane. Pada diri plane itu sendiri, komponen yang memberikan kemampuan terbang adalah sayap. ''Flying machine yang sesungguhnya adalah sayap,'' kata Prof. Said Djauharsyah Jenie, pakar astodinamik dari PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat. Karena sayap itulah, burung besi yang berbobot ratusan ton sekalipun bisa mengangkasa secara aman.

''Sayap pula yang memberi fungsi utama sistem transportasi udara selama ini,'' Said menambahkan, sambil mengingatkan, pada sayap pula mesin pesawat secara fisik bergantung. Maka, doktor lulusan Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat, itu bangga Airbus mempercayakan pembuatan sayapnya di Bandung.

Di hanggar fabrikasi PT Dirgantara, Senin 28 April lalu, Direktur Utama Edwin Sudarmo memasok order pertamanya. Bagian ketiak sayap (inboard outer fixed leading edge) yang dibuat di Bandung itu akan dirakit di Toulouse, Prancis, dan menjadi bagian Jumbo Jet terbesar di dunia A 380. Pesawat berpenumpang 555 orang itu dijadwalkan terbang Maret 2006.

Menurut Edwin, kontrak bisnisnya sendiri diteken British Aerospace System (BAe) selaku pemasok Airbus pada 18 April 2002. ''Nilainya US$ 90 juta untuk 10 tahun. Tahap awalnya dipesan 50 set sayap,'' katanya. Bisa saja, seperti dikatakan Duta Besar Inggris Richard Gozney, kelak pesanannya lebih besar. Sampai 2020, pasar pesawat berpenumpang di atas 400 mencapai 1.235 unit. ''Pesanan itu akan terus dilanjutkan selama BAe masih percaya sama kita,'' kata Edwin.

Tapi, apa hebatnya PT Dirgantara memproduksi sayap A 380? ''Biasa saja, karena mulai desain hingga bahan bakunya sudah ditentukan BAe,'' kata Dr. Joko Sarjadi, dosen teknik penerbangan Institut Teknologi Bandung (ITB). ''Yang luar biasa kalau mulai bahan baku, desain, hingga produksi kita buat sendiri,'' ujar Prof. Dr. Filino Harahap, Kepala Laboratorium Mesin ITB, kepada Mappajarungi dari GATRA.

Namun, Said Jenie, yang juga dosen teknik penerbangan di ITB, tak sepakat. ''Itu kepercayaan besar,'' tuturnya kepada Nuke Susanti dari GATRA. Menurut Said, sayap pesawat itu ada yang bagian luar (outer wing) dan bagian tengah (center wing). Yang dibuat Bandung adalah bagian tengah yang kritis, karena sebagai penyambung sayap dengan bodi. Kalau bagian ini rontok, pesawat berentang sayap 80 meter, panjang 73 meter, serta tinggi 24,1 meter itu bakal hancur lebur.

Teknologi sayap itu sendiri tergantung kecepatan pesawat. Untuk pesawat subsonic (di bawah kecepatan suara), bentuknya lurus seperti pada CN-235 dan N-212, yang juga dibuat Dirgantara. Dan pesawat transonic (kecepatan di atas 0,7 kecepatan suara) sayapnya lebar.

A 380 sendiri tergolong transonic (0,88 kecepatan suara), yang bobotnya saat lepas landas 500 ton. Konsekuensinya, kata Said Jenie, sayap yang lebar itu harus ringan dan lambai (lentur). Kalau sayapnya berat, strukturnya menjadi kaku. Maka, A-380 dibuat dengan bahan spesial.

Menurut situs Airbus, sekitar 40% badan A 380 dibikin dari serat karbon komposit baru. Dan bagian luarnya dilapisi dengan bahan bernama GLARE. Ini membuat bobot kosong A 380 menjadi 240 ton, atau lebih ringan 10 hingga 15 ton dari pesawat seukuran yang dibuat Boeing 747.

''Komposit karbon ini membuat produksinya tak bisa memakai mesin biasa,'' kata Said. Karena itu, Dirgantara telah pula membeli sembilan mesin Cincinnati Aluminium Milacron, yang mampu membelah baja dengan akurasi tinggi.

Kepala Program A 380 Dirgantara, Budiman Saleh, mengungkapkan kerumitan lain dalam produksinya. Dirgantara membuat tak kurang dari 460 komponen. Komponen-komponen itu ada yang dirakit menjadi 18 rakitan besar, dan sisanya dikirim langsung ke Inggris.

Menurut Budiman, sebelum menang tender, dilakukan audit kemampuan teknis dan kapasitas produksi oleh tim BAe. Lantas, Dirgantara diminta membuat tiga bagian tengah sayap sebagai contoh. Hinge rib itu lalu diuji di Inggris.

Hasilnya, terjadi lentingan atau bengkok 4 mm. ''Tapi, pesaing kita di Inggris lentingannya 12 mm,'' kata Budiman. BAe cuma memberi toleransi 1 mm. Tim Budiman melakukan perbaikan dengan menembakkan bijih besi atau teknik corrective shot peening. ''Hasilnya, lentingannya hanya 0,5 mm. Mereka puas,'' ujar Budiman. Ketiak Airbus memang bukan urusan sepele.


(Dani Hamdani, dan Ida Farida, Gatra)

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...