Halaman

Tampilkan postingan dengan label PT PAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT PAL. Tampilkan semua postingan

PT PAL, Kemandirian Negeri Bahari (5)

DSBC Erlyne 50.000 DWT - PT PAL
Menciptakan 'Kaki' Baru

Pada 1987, PT PAL mengembangkan sayap membuka divisi General Engineering (GE / Rekayasa Umum). Suleman memotori peluncuran Divisi ini. Idenya muncul setelah mengetahui sudah cukup banyak awak PT PAL yang menguasai ketrampilan di bidang GE. Sementara itu PT PAL masih memiliki bengkel kerja yang masih belum terpakai, dan bisa dimanfaatkan untuk bengkel kerja Divisi GE.

Langkah awal Suleman dalam membidani kelahiran Divisi GE adalah meyakinkan seluruh anggota Direksi PT PAL yang waktu itu mayoritas masih dari unsur TNI-AL-bahwa PT PAL sesungguhnya merupakan engineering company. Karena kapal berkait erat dengan mesin. Di sana ada engine room yang isinya mesin semua. Sehingga untuk membangun kapal diperlukan pula keahlian di bidang mesin (general engineering). Atas dasar itu, PAL perlu memiliki Divisi GE, yang punya ahli-ahli di bidang permesinan, termasuk ahli konstruksi mesin, bubut, pipa, dan sebagainya, guna membantu divisi lain mengatasi masalah engineering dalam proses produksi kapal.

Pembentukan Divisi GE amat strategis, bukan cuma untuk membantu divisi lain dalam masalah engineering, tapi ikut pula memberikan pemasukan bagi perusahaan. Karena bila pemasukan PT PAL hanya bergantung dari produksi kapal serta layanan pemeliharaan dan perbaikan kapal, maka manakala order dari kedua sektor itu menurun, income PAL akan menurun pula, dan keadaan tersebut berpotensi membahayakan kelangsungan hidup perusahaan. "Karena itu kita memerlukan satu 'kaki' baru, yang bisa menarik income sendiri, disamping mensupport divisi lain", tutur Suleman. 'Kaki' baru itu adalah Divisi GE.

Direktur PAL akhirnya sepakat untuk mendirikan Divisi GE, B.J. Habibie selaku Direktur Utama (waktu itu) memberi "lampu hijau". Sehingga Divisi ini terbentuk dan beroperasi sejak tahun 1987.
Benar juga ahli-ahli dari Divisi GE banyak membantu mengatasi masalah engineering yang dihadapi divisi lain. Sementara itu Divisi tersebut juga bisa mengerjakan proyek-proyek yang menghasilkan uang.
Divisi GE di PT PAL juga dikenal sebagai Divisi Non-Kapal, karena mengerjakan order-order di luar bidang perkapalan, selain tetap membantu divisi lain dalam masalah engineering. Divisi ini telah memproduksi turbin uap dan perlengkapannya, mesin diesel, crane, dll. Juga mengerjakan konstruksi-konstruksi berat seperti jembatan, bangunan lepas pantai, dan sebagainya. "Kami juga sudah mengerjakan perbaikan mesin pabrik gula, meski masih dalam skala kecil," kata General Manager divisi GE, Ir. Kusimawati Rukminto pada saat itu.

Dalam perkembangannya, Divisi GE secara bertahap diperkuat dengan peralatan-peralatan modern, untuk menghasilkan produk-produk berkualitas tinggi. Divisi inipun melakukan kerjasama alih teknologi dengan perusahaan-perusahaan engineering di sejumlah negara, seperti Jerman, Swedia, Jepang dan Finlandia. Kerjasama-kerjasama tersebut telah membuahkan hasil yang menggembirakan.
Sebagai contoh, kerjasama dengan Mitsubishi Heavy Industry (MHI), Jepang, telah menghasilkan produk-produk komponen pembangkit listrik temaga uap (PLTU). PT PAL (dalam hal ini Divisi GE-nya), sebagai sub-kontraktor lokal MHI, memfabrikasi balance of plant (BOP) untuk Proyek PLTU Gresik.

PT PAL juga bekerjasama dengan MHI melaksanakan fabrikasi BOP untuk PLTU Suralaya 3 x 600 Megawatt (MW) . Juga bekerjasama dengan MHI, PT PAL mengerjakan proses permesinan (machining) turbin uap berkapasitas 190 MW untuk PLTU Gresik. Dalam hal ini komponen setengah jadi dipasok MHI dan dirakit oleh PT PAL dengan technical assistance dari MHI. Kerjasama dengan MHI dilaanjutkan untuk machining perlengkapan turbin uap PLTU Suralaya 3 x 600 MW.
PT PAL bahkan telah mendirikan perusahaan patungan dengan MHI, dengan nama PT POSSI, yang bergerak dalam bidang jasa perawatan, perbaikan dan modifikasi turbin uap dan turbin gas.

Kerjasama dengan Warstila dari Finlandia, juga telah menghasilkan produk-produk pembangkit tenaga listrik dan mesin kapal. Dengan MAN GHH (Jerman), menghasilkan level luffing crane.
Hampir 100% ordernya berasal dari luar negeri. Antara lain dari General Electric, USA, yang memesan turbin gas dan perlengkapannya untuk proyek-proyek PLN. "Selama ini kami mendapat order dari luar, terutama dari Jepang, Amerika, dan negara-negara Eropa", tambah Kusimawati.
Karena hampir semua ordernya dari luar negeri, Divisi GE tidak terkena dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika selama krisis moneter. Bahkan Divini ini sekarang merupakan salah satu Divisi yang penting di PT PAL, karena kontribusinya relatih tinggi dalam memberikan profit bagi perusahaan.

Menurut Direktur Utama PT PAL Dr. Ir. Adwin H. Suryohadiprojo, MBA, keuntungan rata-rata per-tahun Divisi GE masih di bawah divisi-divisi lain di BUMN tersebut. Tapi cukup membantu mengamankan cash flow perusahaan.

Menggagas Laboratorium Indonesia

Sebelum PAL berstatus Persero, B.J. Habibie selaku Menristek/Ketua BPPT mengemukakan pemikirannya bahwa untuk memajukan industri, perlu optimalisasi riset dalam bidang industri yang bersangkutan. Dari situ Suleman menyodorkan gagasan membangun Laboratorium Hidrodinamika Indonesia (LHI), guna menunjang optimalisasi riset dalam industri perkapalan. "Gagasan untuk membangun LHI datang dari Pak Suleman ," ungkap Prof. Ir. Soegiono, Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, yang terlibat dalam proyek pembangunan LHI.

Habibie meneruskan ide itu ke Pak Soeharto, dan Presiden memberikan lampu hijau kepada BPPT untuk melaksanakannya. Habibie dalam kapasitasnya sebagai Ketua BPPT menunjuk Suleman sebagai Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) proyek itu.
BPPT semula berencana membangun LHI di Serpong, Jawa Barat. Tapi kemudian Habibie menyetujui proposal dari ITS agar LHI dibangun di dekat kampus ITS Sukolilo, Surabaya. Pertimbangannya, LHI akan lebih efektif karena dekat dengan lingkungan kampus (yang memiliki Fakultas Teknologi Perkapalan). Kalau LHI dibangun di Sukolilo, berarti memudahkan mahasiswa ITS untuk melakukan kerja praktek dalam pengujian hidrodinamika. Dan staf ITS bisa melakukan penelitian di LHI, tanpa meninggalkan tugas mengajarnya. Pertimbangan lain, dekat pula dengan PAL yang kala itu dalam proses pengembangan untuk menjadi sentra industri perkapalan di Indonesia.

Proyek ini selanjutnya di garap BPPT bekerjasama dengan ITS.
Sekitar bulan April 1979, di Kantor BPPT, Jakarta, Suleman mengadakan pertemuan dengan Prof. Ir. Soegiono dari ITS, serta Rochim Murtado dan Budiarta Soeradhiningrat, keduanya staf di BPPT. "Disitu kita bicara serius mengenai disain LHI", ungkap Soegiono.
Lalu Suleman mengirim sebuah tim ke Eropa, guna melakukan studi perbandingan pada laboratorium-laboratorium hidrodinamika disana, sebelum membuat konsep disain LHI.

Setelah konsep rampung, Suleman bersama timnya mengajukan proposal pendanaan ke Bappenas, sebab pembangunan LHI merupakan proyek Pemerintah melalui BPPT. Bappenas mengucurkan dana. Hanya saja, lantaran biaya keseluruhannya cukup besar, sementara dana Pemerintah terbatas, maka pencairannya terbatas.
Baru cair dana Rp. 1 milyar untuk pemasangan tiang pancang, Bappenas menyetop pasokan dana sehingga pembangunannyapun terhenti. "Sudah ditanam ratusan tiang pancang, tahu-tahu mandeg." ungkap Dipl. Ing. Budiarta Soeradhiningrat, staf BPPT yang turut merintis proyek ini.

Kemudian Bappenas membuka kran dana lagi untuk proyek ini, dan digunakan untuk membangun kantor LHI. Tapi sampai disitu, lagi-lagi Bappenas menyetop pendanaan akibat krisis ekonomi. Buntutnya, proyek di atas lahan seluas 8,4 hektar ini terkatung-katung. Sampai disitu, Bappenas seolah-olah menghentikan proyek itu.

Namun Suleman tak patah semangat. Tahun 1986, setelah bertahun-tahun macet, Suleman mengusulkan kepada Habibie agar PT PAL mengambil alih proyek LHI, mengingat laboratorium tersebut amat penting untuk menunjang kemajuan PT PAL dan industri perkapalan Indonesia pada umumnya.
Habibie setuju, PT PAL pun melanjutkannya (setelah memperoleh izin dari Bappenas).
Langkah Suleman selanjutnya adalah melobi lembaga-lembaga pembiayaan di luar negeri, agar memberikan pinjaman lunak bagi proyek tersebut. Tapi upaya ini tidak gampang. Masih perlu waktu dan perjuangan yang agak panjang.

Sampai pimpinan proyeknya Syukur Nasution, meninggal pada tahun 1989, pembangunan fisik LHI belum berlanjut. Pemandangan di lokasi proyek masih cuma ratusan tiang pancang dan sebuah bangunan kantor.

Posisi Syukur Nasution digantikan Budiarta. Dan pada awal dekade 1990-an, upaya Suleman dan timnya membuahkan hasil, dengan diperolehnya pinjaman lunak dari luar negeri. Pembangunan gedungnya dikerjakan konsorsium dari Jepang, dengan pinjaman lunak dari Bank Ekspor-Impor Jepang. Sedangkan suplai dan instalasi peralatan laboratoriumnya dilakukan konsorsium Jerman, dengan pinjaman lunak dari KFW, Jerman. Sampai akhirnya rampung dan diresmikan Presiden Soeharto pada 1995.

Menurut Soegiono, kontribusi Suleman dalam proyek ini amat besar. Suleman konsisten memotori tim pelaksana proyek sejak tahap perencanaan disain. "Mulai dari tahap perencanaan, paling tidak seminggu sekali beliau mengadakan rapat dengan anggota tim," tutur Soegiono.
Suleman selalu berusaha mencarikan jalan keluar dari berbagai kesulitan dalam proses pembangunannya, termasuk dalam hal pendanaan. Soegiono percaya, tanpa kegigihan Suleman, kemungkinan besar proyek ini masih terkatung-katung.

"LHI adalah salah satu karya besar Pak Suleman," tukas Budiarta, karena LHI lahir dari ketajaman visinya, tentang perlunya laboratorium hidrodinamika, guna mendukung kemajuan industri-industri perkapalan nasional. Dan ia konsisten untuk mewujudkannya.

Belakangan ini, dalam situasi krisis ekonomi, LHI masih menerima order pengujian hidrodinamika dari luar negeri. Antara lain dari Srilanka dan Kanada. Disamping itu LHI juga menerima order dari dalam negeri, termasuk untuk uji hidrodinamika atas kapal kontainer 1.600 Teu dan 400 Teu yang sedang di bangun PT PAL. "Memang belum profit, tapi biaya operasinya sudah tertutup," kata Budiarta.

Sekarang LHI sudah di limpahkan kembali oleh PT PAL kepada BPPT, setelah memperoleh persetujuan dari Departemen Keuangan. Agar PT PAL bisa berkonsentrasi pada line business yang sudah dijalani.

Membuat Gebrakan Pertama

Sewaktu PAL masih berstatus Perum, B.J. Habibie meminta Suleman menyiapkan proyek pembangunan kapal yang relatif besar. Tujuannya, membuat gebrakan untuk membuktikan bahwa Indonesia mampu membuat kapal besar, yang belum pernah diproduksi di sini.
Bertolak dari situ Suleman merancang proyek pembangunan Kapal Tanker 3.000 Dwt-5.000 Dwt untuk Pertamina. Tahun 1979, ia sudah menawarkan kerjasama dengan beberapa galangan di Jakarta untuk ikut mengerjakan proyek tersebut.

Pada 13 Juni 1980, diadakan Rapat Direksi PT PAL yang dipimpin langsung oleh B.J. Habibie. Hasil pertemuan antara lain membentuk Divisi-divisi di PT PAL, yakni Divisi Pemeliharaan dan Perbaikan, Divisi Kapal Perang, Divisi Kapal Niaga, dan Divisi Produksi. Proyek yang disiapkan untuk Divisi Kapal Niaga adalah Kapal Layar 2.000 Dwt, dan Tanker 3.500 Dwt.
Suleman merangkap sebagai Kepala Divisi Kapal Niaga-disamping menjabat sebagai Direktur Teknologi. Berikutnya, 24 Juni 1980, Habibie memimpin rapat dengan Pertamina, membahas rencana proyek tersebut. Keputusannya, dari lima Tanker pesanan Pertamina, tiga di antaranya dibangun di PT PAL, dua di PT Pelita Bahari.

Namun dalam Rapat Direksi PT PAL, tanggal 2 Juli 1980, Habibie mengemukakan perubahan rencana pembagian order, menjadi dua unit dibangun di PT PAL, dua di PT Intan Sengkunyit, dan satu di PT Pelita Bahari. Intan Sengkunyit adalah galangan swasta milik mantan Direktur Pertamina Ibnu Sutowo dan dikelola oleh putranya, Ponco Sutowo.
Pertamina sebenarnya tidak nyakin PAL bisa membangunnya. Indra Kartasasmita, salah seorang Direktur Pertamina yang menandatangani kontrak dengan PT PAL untuk membangun kapal itu.
Skeptisme itu beralasan. Karena rekor industri perkapalan di Indonesia pada era itu beru membangun kapal-kapal kelas 1.000 Dwt. Sementara PT PAL masih hijau dalam soal membangun kapal, sebab tadinya hanyalah instalasi TNI-AL yang berkonsentrasi pada pemeliharaan dan perbaikan kapal perang. Padahal, dengan pengetahuannya yang luas dalam bidang perkapalan, Suleman ketika itu amat yakin bahwa PAL mampu mengerjakannya.

Banyak orang di PT PAL sendiri tidak percaya bahwa mereka mampu membangun kapal 3.500 Dwt. Bahkan ada diantara mereka yang mengatakan, "Ini kan proyek Pak Suleman. Kita kerja saja, soal bisa atau tidak, selesai atau tidak, itu urusan nanti."
Ir. M. Moenir, staf PT PAL yang ikut membantu Suleman dalam pelaksanaan proyek Kapal Tanker 3.500 Dwt, membenarkan bahwa ia dan rekan-rekan seangkatannya (yang kala itu masih fresh graduate dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya dan baru bergabung di PT PAL) pada awalnya tidak begitu yakin bahwa mereka bisa membangun kapal sebesar itu. "Tapi kami punya figur pimpinan, yakni Pak Suleman, yang tahu apa saja kunci untuk membangun kapal itu. Jadi beliau membuat kita optimis, yakin 100%, bahwa itu bisa kita buat.

Modal awal yang sudah dimiliki PT PAL untuk membangun kapal itu adalah dok gali berkapasitas 20.000 ton, lebih dari cukup untuk membangun kapal 3.500 ton. Juga sumber daya manusia (SDM) yang ketrampilannya bisa dikembangkan untuk mengerjakan proyek ini.
Atas prakarsa Habibi, Suleman merintis kerjasama dengan Mitsui Engineering & Shipbuilding (MES), Jepang, pemilik lisensi kapal tanker yang akan diproduksi itu. PT PAL mengirim personilnya ke MES, untuk belajar merancang bangun kapal tersebut. Dan MES memberikan tenaga technical assitance selama proses produksinya berlangsung di PT PAL. Sampai akhirnya terbukti bahwa PT PAL bisa merancang bangun kapal tanker 3.500 Dwt.

Setelah kapal diserahkan kepada Pertamina, Indra malah memuji PT PAL. Bukan semata karena mampu menyelesaikannya, namun juga lantaran kapal yang dibangun di PT PAL itu kualitasnya jauh lebih tinggi dibanding yang ia perkirakan. Dengan bukti kongkrit, Suleman telah mematahkan keraguan atas kemampuan PT PAL membangun kapal tersebut. Ia pun turut membuka mata berbagai pihak, bahwa SDM Indonesia di masa itu sebenarnya sudah punya ketrampilan merancang bangun kapal yang kelasnya jauh diatas 1.000 Dwt. Ketrampilan itu terpendam lama, karena tidak ada aksi untuk memberi meraka kesempatan mengekspresikannya.

Dari situ, tumbuh kepercayaan atas kemampuan galangan-galangan di Indonesia, termasuk PT PAL dalam memproduksi kapal modern yang lebih besar lagi.



Read more...

PT PAL, Kemandirian Negeri Bahari (4)

Membangun Shipbuilding Plant dengan Visi Jauh ke Depan

Fasilitas Ship Building Plant (SBP) di PT PAL adalah yang tercanggih di Asia Tenggara. Bahkan sejumlah pakar perkapalan menilai disainnya nyaris sempurna. Jerman yang industri maritimnya lebih tua saja baru belakangan membangun SBP secanggih yang dimiliki PT PAL.
Performa SBP yang mulai dibangun pada tahun 1984 itu tak lepas dari peran Suleman. Ia tak sekadar menuangkan ide untuk membangunnya, tapi juga gigih memperjuangkan idenya sampai menjadi kenyataan. Bersama B.J. Habibie, ia meyakinkan para penentu keputusan (baik keputusan politik maupun keputusan soal pembiayaan) bahwa proyek SBP tersebut rasional.
Sesuai dengan kebutuhan PT PAL untuk memproduksi kapal secara efisien. Sejalan pula dengan upaya mengangkat PT PAL sebagai pusat keunggulan industri maritim di Asia Tenggara.

Lebih jauh, Suleman memainkan perannya dalam menentukan disain SBP tersebut. Ia, dengan kepekaannya terhadap teknologi maritim, menyeleksi produk-produk unggulan di dunia, untuk diintegrasikan dalam SBP tersebut. Ia evaluasi secara teknis produk mana yang lebih menguntungkan dan apakah harga atau biaya pembangunannya rasional. Hasilnya, bengkel-bengkel di SBP ini merupakan perpaduan dari produk-produk unggulan di dunia. Sebagai ilustrasi, peralatan untuk bengkel pipanya buatan Inggris, untuk bengkel fabrikasi dari Jepang, untuk bengkel assembly dari Jerman dan Norwegia.

Mitsui Engineering & Shipbuilding (MES), Jepang sebagai kontraktor utama pembangunan SBP itu sebenarnya telah menyiapkan lay-out SBP tersebut, mengacu pada galanan MES di Jepang. Namun Suleman tidak mengikuti semua lay-out yang disiapkan MES. Sebab ia menghendaki peralatan-peralatan di SBP tersebut sedapat mungkin merupakan yang tercanggih di dunia, sedangkan sejumlah peralatan yang ditawarkan MES sudah ketinggalan jaman. "Kami disuruh meniru galangan MES yang dibangun tahun 1970-an. Kami nggak mau, karena kami ingin peralatan-peralatan di SBP kami adalah the best", ungkap Suleman yang menugaskan stafnya untuk melakukan survei ke galangan galangan di Asia, Eropa dan Amerika, guna mengetahui produk-produk peralatan SBP tercanggih di dunia pada masa itu sebelum SBP di PT PAL mulai dibangun.

Suleman dengan gigih memperjuangkan kepentingan PAL untuk menginstalasikan peralatan tercanggih di SBP-nya. Meskipun proyek ini didanai dengan pinjaman lunak dari Jepang. Sehingga pihak Jepang (MES) memiliki posisi tawar yang lebih kuat untuk menentukan produk peralatan yang dipakai di sana. Berbulan-bulan Suleman dan stafnya berdebat dengan pihak Jepang untuk membela kepentingan PAL itu.

Umumnya galangan di dunia seperti rumah tumbuh. Di sana tiba-tiba dibangun satu fasilitas tertentu, tanpa lebih dulu dibuat konsepnya secara menyeluruh. Namun, di PT PAL, semua dibangun dengan konsep sebelum direalisasikan. Konsep itu termasuk bagaimana fasilitas-fasilitasnya dibangun secara terintegrasi untuk mendukung kelancaran proses produksi, seperti kelancaran aliran material, dan sebagainya.
Konsep juga mencakup produk peralatan seperti apa yang perlu diinstalasikan di sini, guna menopang kegiatan produksinya di masa depan. Sebagai contoh, sewaktu PT PAL membangun kapal tanker 3.500 Dwt untuk Pertamina, galangan ini menggunakan crane berkapasitas hanya 30 ton. Karena itu blok-bloknya dibuat kecil-kecil. Lalu, berdasarkan konsep Suleman, PT PAL mengoperasikan Goliath Crane berkapasitas 300 ton.

Ketika Goliath Crane di instalasikan disana, banyak orang mempertanyakan untuk apa PT PAL memiliki crane berkapasitas sebesar itu. Kenyataannya, Goliath Crane itu diperlukan PT PAL, guna mendukung perkembangan kemampuan perusahaan ini dalam memproduksi kapal yang lebih besar. Fasilitas itu memungkinkan PT PAL membuat blok-blok yang lebih besar guna membangun kapal-kapal yang lebih besar pula.

Bengkel dan peralatannya meliputi :
Steel Stock House, tempat penyimpanan material baja berkapasitas 4.000 ton dan profil-profil 1.300 ton. Dilengkapi peralatan plate straightening, roller, mesin shot blasting, chain covenyor 10 ton, transverter 10 ton, serta overhead crane berkekuatan 5 dan 10 ton.

Bengkel Fabrikasi, untuk mengerjakan marking, pemotongan dan pembentukan plat baja, dengan kapasitas produksi 20.000 ton/tahun/shift. Peralatannya antara lain NC marking & cutting dengan kemampuan memotong baja yang tebalnya hingga 30 milimeter, frame bending 400 ton dan roll bending 1.500 ton, mesin press hidrolik 500 dan 1.000 ton, plus overhead crane 5 dan 10 ton.

Bengkel Sub-Assembly, tempat perakitan blok-blok berukuran kecil (hingga berat 10 ton) dengan menggunakan peralatan Total Transportation System. Peralatannya terdiri dari small panel line, component fabrication, profile built-up, dan lain-lain.

Bengkel Assembly, tempat merakit blok-bolk dan panel-panel untuk konstruksi lambung kapal, termasuk curved block hingga 180 ton, dengan Total
Transportation System. Peralatan utamanya mencakup main panel line, curved block line, overhead crane 20 dan 40 ton.

Bengkel Grand Assembly, untuk konstruksi dan pengecatan blok yang beratnya hingga 300 ton, dengan peralatan block transfer carrier berkapasitas 150 dan 300 ton, serta overhead crane 75 dan 150 ton.

Bengkel Block Blasting, untuk mengerjakan pengecatan blok dan perlengkapan kapal dengan kapasitas 2 x 30 ton per-hari. Peralatannya mesin blasting, dust collector, grit collecting & cleaning system, mesin pengecatan dan dehumidifier.
Fasilitas lain meliputi bengkel pipa, bengkel galvanizing, bengkel kayu, bengkel permesinan, bengkel thin plate, dan fasilitas penunjang lainnya.
Memiliki dok gali selebar 32 meter, kedalaman 10,3 meter dan panjang 300 meter, dilengkapi pintu pemisah (yang bisa dibuka-tutup) sehingga dok bisa dipisahkan menjadi dua bagian. 100 m dan 200 m. Ini mempercepat pembangunan kapal-kapal dalam satu proyek, karena memungkinkan satu kapal diluncurkan tanpa mengganggu pekerjaan pembangunan kapal di sebelahnya.

Kapal-kapal berukuran besar yang telah diproduksi di sini antara lain Tanker 6.500 Dwt dan 17.500 Dwt, serta Dry Cargo Vessel 18.500 Ton dan 42.000 Ton. Disini sedang dibangun pula Kapal Kontainer 1.600 Teu (setara 24.000 Dwt, disamping tiga unit Kapal Kontainer 400 Teu (setara 5.800 ton).

General Manager Divisi Kapal Niaga PT PAL Ir. I. Nyoman Sudiana menilai pembangunan SBP itu merupakan buah dari ketajaman visi Suleman untuk menangkap peluang membangun kapal-kapal niaga. Manakala sumberdaya manusianya sudah memiliki kemampuan membangun kapal-kapal yang lebih besar, dan ada order untuk memproduksinya, maka semua itu dapat direalisasikan dengan fasilitas-fasilitas SBP tersebut.
Suleman sendiri memang menyiapkannya untuk mengantisipasi membanjirnya order kapal niaga, terutama pada paruh kedua dekade 1990-an. Waktu itu ia melihat bahwa suatu saat ekonomi Indonesia akan mengalami booming, sehingga diperlukan banyak kapal niaga.

Pada masa itu ia pun membaca laporan-laporan mengenai pasar global, yang antara lain menyebutkan bahwa suatu saat order kapal pada galangan-galangan di Eropa (khususnya Eropa Barat) dan Jepang akan surut karena harganya terlalu mahal. Sehingga order akan mengalir keluar kawasan tersebut. Belakangan ini order kapal ke Jepang dan Eropa Barat memang menurun. Sekarang pesaing PAL di luar negeri tinggal galangan-galangan di Cina dan Eropa Timur.
Berdasarkan trend menurunnya order kapal ke Jepang dan Eropa Barat, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menggembirakan pada awal dekade 1990-an, Suleman memperhitungkan boom order kapal niaga akan dinikmati PAL mulai tahun 1999. Tapi meleset, gara-gara krisis moneter yang diluar jangkauan perhitungannya. "Saya tidak predict akan ada krismon, akan ada krisis politik. Kalau dari segi teknis, saya perhitungkan dan persiapkan betul."

Dalam situasi tersebut PAL dengan dukungan fasilitas-fasilitas yang sudah dimilikinya masih mengerjakan order-order pembangunan kapal yang cukup besar. Sehingga setiap hari perusahaan ini mempekerjakan karyawan dalam tiga shift.

PT PAL, Kemandirian Negeri Bahari (3)
PT PAL, Kemandirian Negeri Bahari (2)
PT PAL, Kemandirian Negeri Bahari (1)

Read more...

PT PAL, Kemandirian Negeri Bahari (3)

Memancangkan Tiga Pilar

Pada 1993, muncul isu yang dilontarkan kalangan DPR-RI bahwa proyek-proyek di PT PAL hanya menghambur-hamburkan uang negara. Tokoh Petisi 50 Ali Sadikin (Alm) menaruh perhatian pada isu tersebut. Lantaran ia merasa pernah ikut membangun PAL semasa menjabat Deputi Menteri Angkatan Laut tahun 1960-an.

Dalam satu pertemuan dengan B.J. Habibie, Direktur Utama pada waktu itu, Bang Ali menanyakan hal tersebut. Habibie dengan tegas menjawab: "Itu tidak betul!" Demi menyakinkan Bang Ali, Habibie mengundang mantan Gubernur DKI itu ke PT PAL. Apa yang terjadi? Bang Ali terkesima melihat berbagai fasilitas PT PAL dan proyek-proyek pembangunan kapal yang dikerjakannya. Ia malah bersyukur karena PAL dikelola oleh orang yang tepat, yakni Habibie, sehingga galangan ini berkembang pesat dan memperkuat potensi industri maritim di Tanah Air. Jika tidak ditangani "orang yang tepat" seperti Habibie, menurut Bang Ali, PAL akan menjadi museum karena anggaran TNI-AL amat minim.

Sementara itu, mantan menko polkam Laksamana TNI (Purn) Sudomo pernah mengungkapkan, PAL jadi sasaran pemboman selama Perang Pasifik, semula oleh Jepang, dan selanjutnya oleh Sekutu. Maka PAL praktis seperti puing-puing besi tua ketika diambil oleh TNI-AL. Lalu TNI-AL merehabilitasi fasilitas-fasilitas PAL seperlunya, agar bisa berfungsi kembali sebagai sarana pemeliharaan dan perbaikan (Harkan) kapal-kapal perangnya.

Sudomo memuji Habibie atas keberhasilannya membangun PT PAL, dari "puing-puing besi tua" menjadi galangan modern dan ujung tombak industri perkapalan nasional. Karena kesibukan Habibie dengan berbagai jabatannya,  tidaklah mungkin ia melaksanakan tugasnya sebagai Direktur Utama PT PAL setiap hari. Maka Habibie mengangkat Suleman sebagai Koordinator Kegiatan (setara dengan Senior Execitive Five President) PT PAL, untuk mengendalikan PT PAL sehari-hari. Disamping sebagai Direktur Teknologi, kemudian Direktur Teknologi dan Komersial, sebelum menjadi Direktur Komersial PT PAL. Jabatan Koordinator Kegiatan ini mirip dengan jabatan Sekretaris Jenderal di Departemen, yang tugasnya mewujudkan kebijakan-kebijakan Menteri menjadi program, kegiatan, dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan intern departemen.

Sejak awal memang telah terbentuk sinergi antara Habibie dan Suleman dalam proses pengembangan industri kelautan nasional dan PT PAL. Habibie lebih memfokuskan pada kebijakan-kebijakan, melalui pendekatan (lobi) ke berbagai pihak. Sedangkan Suleman mengimplementasikan dan mengkoordinasikan kebijakan-kebijakan yang dibuat Habibie menjadi program-program dan kegiatan nyata, untuk mendorong kemajuan serta modernisasi PT PAL.

Jelaslah, dengan kedudukan sebagai orang nomor dua di PT PAL, Suleman tidak banyak dikenal oleh masyarakat maupun para pejabat tinggi Pemerintah, sehingga Ali Sadikin dan Sudomo sama sekali tidak menyebut nama Suleman dalam pujian mereka atas keberhasilan PT PAL.
Bahwa Habibie yang mendapat pujian atas sukses PT PAL, Suleman menganggap itu sebagai sesuatu yang lumrah. Karena Habibie memang orang nomor satu di PT PAL pada saat itu.
Suleman berpendapat bahwa tanpa Habibie, PT PAL tidak akan ada. Pasalnya, Presiden dimasa Order Baru sangat berkuasa, sehingga upaya untuk membangun sebuah industri kapal nasional yang tangguh harus dilakukan oleh orang yang punya lobi yang kuat dengan Presiden. Dan orang itu adalah Habibie.

"Jadi kalau Pak Habibie yang mendapat pujian atas performance PT PAL, memang seharusnya begitu," tukas Suleman. "Saya hanya pelaksana. Kalau saya sendiri disuruh membangun PT PAL, rasanya tidak mungkin, karena saya tidak punya lobi dengan Presiden Soeharto."
Suleman bahkan merasa harus berterima kasih kepada Habibie. Sebab Habibie memberinya kesempatan untuk mencurahkan kreasi-kreasinya kepada masyarakat melalui PT PAL. "Dan saya berusaha memberikan yang terbaik, walaupun untuk itu saya sampai sakit-sakit," tuturnya.
Ia puas karena buah kreasinya sudah terwujud, dan semuanya nyata. Antara lain berupa fasilitas-fasilitas di PT PAL hingga galangan ini menjadi yang terbesar dan termutakhir di Asia Tenggara, serta perkembangan kemampuan sumber daya manusianya, sehingga dapat memproduksi kapal modern bertonase hingga 50.000 Dwt.

Asunsi bahwa PT PAL tidak akan ada tanpa Pak Habibie, dibenarkan oleh Direktur Utama PT PAL Adwin H. Suryohadiprojo. Namun ditambahkannya, "PT PAL tidak akan semaju sekarang tanpa Pak Suleman." Untuk hal ini, sejumlah direktur dan mantan direktur, sampai kepada kepala divisi dan manajer di PT PAL, memberikan pendapat senada dengan Adwin.
Lalu apa sebenarnya yang telah dilakukan Suleman untuk membuat PT PAL semaju sekarang?

Suleman membangun tiga pilar (pondasi) yang kokoh di PT PAL, sehingga BUMN ini bisa berkembang secara terarah untuk menjadi industri maritim modern yang memiliki daya saing di tingkat internasional, sekaligus menjadi ujung tombak industri perkapalan nasional. Pilar-pilar tersebut meliputi fasilitas-fasilitas yang modern, pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan kemampuan teknologi.
Ketika PAL baru menjadi Persero pada tahun 1980, ada sejumlah galangan lain di Indonesia yang sudah lebih dulu berstatus PT (Persero) dan memproduksi kapal baru. Yang membuat PAL berbeda dengan pendahulu-pedahulunya itu adalah : PT PAL sejak awal sudah diarahkan untuk menjadi galanan modern. Artinya, galangan yang sarat fasilitas, teknologi, dan kemampuan SDM.

Fasilitas
Cikal bakal PAL adalah sebuat unit kegiatan bidang maritim yang didirikan pada tahun 1890, dengan tugas utama melayani Harkan kapal perang dan kapal dagang Hindia Belanda Tahun 1939, unit ini diambil alih Pemerintah Hindia Belanda dan dinamai Marine Establishment (ME).
Semasa pendudukan Jepang, ME dijadikan fasilitas Harkan armada Angkatan Laut Jepang. Selama Agresi Belanda Pertama dan Kedua, ME kembali dikuasai Belanda. Baru pada 27 Desember 1949, diserahkan kepada Pemerintah Indonesia, dan namanya diganti menjadi Penataran Angkatan Laut (PAL). Baik dibawah penguasaan Pemerintah Hindia Belanda, Jepang, hingga di tangan Pemerintah RI, fungsi pokok ME/PAL sama saja melayani Harkan kapal perang. Hanya "tuannya" yang berganti-ganti dari Angkatan Laut Belanda, ke-Angkatan Laut Jepang, kemudian kembali ke-Angkatan Laut Belanda, dan terakhir TNI-AL.

Pada tahun 1962, PAL berstatus Perindustrian Berat di bawah TNI-AL. Dan setahun kemudian, di bawah Komando Penataran Angkatan Laut (Konatal).
Sampai berstatus Perum pada akhir 1978, PAL sudah memproduksi kapal niaga berukuran kecil di bawah 1000 Dwt. Sedangkan jumlah karyawannya sekitar 6.000 orang. Sewaktu PAL ditingkatkan statusnya menjadi Persero, fasilitas yang ada disana hanya untuk Harkan kapal-kapal TNI-AL. Diantaranya Dok Irian (dok gali yang semula disiapkan untuk docking KRI Irian). Selebihnya adalah dok apung, yakni Dok Surabaya dan Dok Kotaraja.

Selanjutnya, Suleman merintis pembangunan berbagai fasilitas di PT PAL agar memiliki kemampuan membangun kapal-kapal baru, disamping mengembangkan fasilitas Hanrkan, dan fasilitas penunjang lainnya. Mulai dari membangun fasilitas untuk Divisi Kapal Perang. Kemudian Kantor Direktorat Teknologi, dengan mengupgrade gudang peninggalan PAL. Dari situ berlanjut ke pengembangan fasilitas Harkan. Lalu fasilitas Divisi Kapal Niaga, dan Divisi General Engineering (Non-Kapal).
Divisi Kapal Perang dibangun secara bertahap, hingga memiliki fasilitas untuk membangun Kapal Patroli Cepat 60 Ton, Kapal Patroli Cepat 400 Ton, Korvet 1.200 Ton, Fregat 2.500 Ton, Kapal Penyapu Ranjau 600 Ton, dan Jetfoil 120 Ton.

Divisi Harkan yang semula sebagian besar mesinnya hanyalah mesin-mesin tua peninggalan Belanda, secara bertahap diperbaharui dengan mesin-mesin modern. Sehingga memiliki kemampuan mereparasi sistem elektronik kapal perang yang canggih, komponen-komponen kapal lain, sampai refitting. Juga melakukan reparasi umum untuk lambung kapal, superstructures, mesin induk, sampai as baling-baling kapal. Alhasil, dibarengi dengan pengembangan kemampuan SDM-nya. Divisi ini bisa memberikan layanan Harkan secara lebih cepat, efisien dan efektif.
Bahkan PAL telah memiliki fasilitas overhauling kapal selam. Sehingga telah pula meng-overhaul dua kapal selam milik TNI-AL: KRI-Cakra dan KRI Nanggala. Ini sekaligus langkah pendahuluan PT PAL untuk memproduksi kapal selam.
Dengan pengarahan Habibie, Suleman pun merintis pembangunan Ship Building Plant (SBP) untuk Divisi Kapal Niaga. SBP yang terlengkap dan tercanggih di Asia Tenggara ini memungkinkan PT PAL memproduksi kapal secara efisien.
Lalu ia secara bertahap memperkuat Divisi Non-Kapal dengan mesin-mesin modern. Sehingga mampu menghasilkan komponen kapal berukuran kecil sampai komponen pembangkit tenaga listrik.
Setelah membangun fasilitas-fasilitas produksi, ia baru mengalihkan perhatian pada pembangunan gedung perkantoran. Intinya, ia memantapkan fasilitas produksi dulu, baru kemudian membangun fasilitas perkantoran. Pada tahun 1995, dibangun gedung perkantoran modern di PT PAL. Sayang, setahun kemudian pembangunannya macet karena dananya tidak mencukupi. Sejauh ini tersendatnya pembangunan gedung itu tidak menghambat kegiatan di PT PAL.

Sumber Daya Manusia (SDM)
Salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh industri perkapalan Indonesia agar sejajar dengan industri sejenis yang sudah lebih dulu maju di dunia, adalah harus mengembangkan SDM hingga memiliki ketrampilan setara dengan SDM di industri perkapalan terkemuka di luar negeri. Maka Suleman mencanangkan optimalisasi SDM di PT PAL, di mulai dari rekruitmen secara cermat, kemudian mengirim mereka untuk belajar maupun mengikuti training dalam rancang bangun kapal pada galangan yang sudah maju di luar negeri.
Ia merintis kerjasama-kerjasama dengan galangan di luar negeri, dalam rangka mengembangkan kemampuan SDM PT PAL. Dimulai dari pengiriman personil untuk mempelajari prosedur pembuatan kapal di galangan yang sudah maju. Kemudian pengiriman personil untuk melakukan on the job training dalam mendisain dan membangun kapal. Dari situ, mereka merancang bangun kapal dengan bantuan technical assistant. Sampai akirnya bisa merancang bangun kapal sendiri.

Teknologi
Bahwa PT PAL disiapkan menjadi galangan yang sarat teknologi, ditunjukkan secara nyata melalui pembentukan Direktorat Teknologi (Dittek), bahkan sejak PAL masih berstatus Perum. Pada masa itu, PAL merupakan satu-satunya galangan di Indonesia yang memiliki Dittek.
Suleman membidani kelahiran Dittek, kemudian memimpin langsung Direktorat ini sampai 1994. Ia meletakkan landasan-landasan di Direktorat tersebut, agar bisa berkembang secara terarah sehingga pada gilirannya memperkuat PT PAL untuk menjadi center of excellence industri maritim di Indonesia dan bahkan di Asia Tenggara.
Dalam kasitas sebagai Direktur Teknologi, Suleman merintis dan mengembangkan program komputerisasi untuk mendisain kapal di PT PAL. Mulai dengan mengimplementasikan FORAN System pada tahun 1983. Fungsi software ini adalah untuk mendisain kapal dari tahap preliminary design sampai manufacturing design. Suleman mengaplikasikan pula software lain yaitu CADCAM System, sekaligus hardware-nya, dan mengintegrasikannya, demi mengoptimalkan efisiensi dalam proses rancang bangun kapal di PT PAL.
Lagi-lagi, PT PAL menjadi pelopor komputerisasi untuk rancang bangun kapal di Indonesia. Baru setelah PT PAL menerapkan komputerisasi, galangan-galangan lain di Tanah Air mengikuti. Sementara itu Suleman - semasa menjadi Direktur Teknologi - terus meng-upgrade software maupun hardware yang di aplikasikan di PT PAL. Ia menjadikan PAL sebagai pelopor dalam penggunaan workstation (IBM RISC 6000) untuk aplikasi CAD-CAM di Indonesia sejak 1991. Sehingga sampai sekarang sistem komputer untuk rancang-bangun kapalnya masih yang tercanggih dan terlengkap dibanding yang dipakai galangan lain di Tanah Air.

Ketika PT PAL baru berdiri, negara yang teknologi perkapalannya terdepan di dunia adalah Jerman dan Jepang. Maka Suleman mencari cara untuk mengadopsi teknologi dari kedua negara tersebut. Ia mengadopsi teknologi dari Jepang untuk Divisi Kapal Niaga, dan dari Jerman untuk Kapal Perang. Sedangkan untuk Divisi Harkan tetap mengadopsi teknologi dari AS, sebagaimana sebelum ditangani Suleman.

Selebihnya, untuk membuat PAL menguasai teknologi rancang-bangun kapal, ia tidak hanya menyiapkan fasilitasnya, tapi juga mengantar BUMN ini melalui tahapan-tahapan alih teknologi. Untuk tahap pertama, PAL membeli disain dari galangan lain untuk memproduksi kapal  yang sudah ada di pasaran. Kemudian masuk ke-tahap II, yakni tahap integrasi teknologi, di mana PAL memodifikasi disain yang dihasilkan pihak lain, untuk melahirkan produk yang belum ada di pasaran.

Sekarang, PAL telah mencapai tahap ketiga, yakni membuat disain sendiri sehingga melahirkan produk yang belum ada di pasaran, antara lain untuk kapal penumpang FAX-500 dan Tanker 17.500 Dwt. Selangkah lagi, PAL mencapai tahap ke-empat atau terakhir, yakni melakukan inovasi teknologi, untuk menciptakan disain kapal masa depan.

Dengan pilar-pilar yang telah ditancapkannya, PT PAL dapat berkembang hingga mencapai titik kemajuannya sekarang. Dan masih ada sejumlah "pilar" lain yang ia tanam di sini, sehingga lambat-laun PAL kian kokoh dan terus bergerak maju. Artikel ini akan menjadi terlalu panjang untuk menggambarkan semuanya. Dan di ceritakan pada halaman lain tayangan ini.

PT PAL, Kemandirian Negeri Bahari (2)
PT PAL, Kemandirian Negeri Bahari (1)

Read more...

PT PAL, Kemandirian Negeri Bahari (2)

Membangun Impian

Sekitar Tahun 1975 ketika hasrat Suleman membangun Industri kelautan di Indonesia kian mengkristal ia menanyakan kepada B.J. Habibie kapan dirinya dipanggil untuk bergabung di Divisi Advance Technology Pertamina (ATP). Habibie waktu itu menyakinkan bahwa Suleman pasti dipanggil dan meminta ia menunggu. Ketika ahkirnya ia dipanggil untuk bergabung ke Divisi ATP, ia menurut saja. Padahal ia belum tahu jabatan apa yang bakal di dudukinya di sana. Ia memang tidak terlalu memikirkan jabatan yang terpenting baginya Habibie membuka kesempatan kepadanya untuk ikut membangun Industri ini di Indonesia. Baginya, kesempatan mengembangkan Industri Kelautan di Tanah Air jauh lebih penting dibandingkan jabatan yang ia akan duduki. Maklum, tekadnya untuk membangun Industri Kelautan Indonesia sudah terpendam sejak ia masih menekuni studi perkapalan di Jerman (1954 - 1963).

Kalau Habibie tidak segera memangil Suleman untuk bergabung begitu Divisi ATP berdiri, itu lantaran langkah pertama Habibie di Divisi tersebut adalah menyiapkan industri pesawat terbang nasional. Kantornya adalah sebuah rumah tua berlantai 2 di Jalan Biliton, tepatnya di belakang Gedung FNCB Jalan MH Thamrin, Jakarta-Pusat. Sedangkankan ruang kerjanya adalah kamar-kamar yang sempit. Tiap kamar berukuran sekitar 3 x 3 meter, masing-masing untuk 3 - 4 orang. "Untuk mencapai tempat duduk kita saja, kadang-kadang harus melangkahi kursi staf lain," tutur Budiartha Soeradhiningrat, melukiskan betapa sempitnya ruang kerja mereka waktu itu. Pendingin ruangan (AC) hanya ada di lantai bawah. Suleman sekamar dengan Buchari Azim (Alm) dan Harsono Purponegoro di lantai atas yang tidak ber AC. Ruang tamunya hanyalah teras terbuka, persis di depan WC yang menyebarkan aroma tak sedap jika pintunya terbuka. tapi Suleman tidak berkecil hati dengan keadaan itu. Ia merasa bahwa menghadapi kondisi kantor yang demikian adalah bagian dari perjuangannya. "Dan bagaimanapun kami berterima kasih kepada Pertamina, yang telah menyediakan kantor, rumah dinas, membiayai seluruh operasional, dan menerima kami sebagai pegawai Pertamina,"Ujar nya".

Habibie memposisikan Suleman sebagai Kepala Staf Bidang Maritim di Divisi tersebut. Staf intinya -- yang sudah lebih dulu bergabung adalah MSM Harahap, Budiarta, dan Munaf Gajo. Staf lainnya yang di rekrut kemudian : Naufal Bahreisy dan Suhadi, keduanya Insinyur Perkapalan dari Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.  Dalam sebuah seminar perkapalan Habibie memberikan ceramah tentang konsep pengembangan industri kelautan, yang draft-nya disiapkan Suleman bersama Stafnya. Konsep itu kelak direalisasikan di PT PAL Indonesia.

Staf Maritim yang di pimpin Suleman bertugas menyiapkan Industri Maritim yang tangguh, agar dapat diandalkan sebagai agen pembangunan industri maritim di seluruh Indonesia. Sebagai persiapan, Tim ini mengumpulkan data mengenai industri kelautan di Indonesia. anara lain dengan survey keberbagai daerah, guna mengetahui sejauhmana kemampuan galangan-galangan di indonesia, berkaitan dengan fasilitas dan sumber daya manusianya. Mereka juga mengadakan survey ke pelabuhan-pelabuhan, perusahaan-perusahaan pelayaran, maupun pihak lain yang terkait dengan industri kelautan. Hasil surveynya, rata-rata galangan di Indonesia belum memiliki kemampuan untuk mendesain kapal. Kalau mereka membangun kapal, desainya 100% dari Luar Negeri. Dan yang mereka bangun pun hanya kapal-kapal kelas 1000 ton ke bawah. Di samping itu, umumnya galangan di sini lebih berkonsentrasi pada pemeliharaan dan perbaikan (Harkan) kapal, dari pada membangun kapal baru.

Berdasarkan hasil survey itu plus sejumlah pemikiran lain, Suleman dan kawan-kawan meluncurkan konsep membuat empat sentra industri perkapalan di Indonesia. Yakni di Palembang untuk kawasan Sumatera, Jakarta dan Surabaya untuk Jawa, serta Ujung Pandang untuk kawasan Timur Indonesia. Pertimbangan untuk memilih empat titik tersebut antara lain memiliki pelabuhan yang cukup besar. Sehingga aktifitas perdagangannya cukup padat. Dan karenanya memerlukan banyak kapal. Dan di sana sudah ada galangan, yang memiliki tenaga kerja terlatih dalam bidang perkapalan.

Pada 1977, setelah memperoleh cukup masukan, Suleman bersama Tim nya menyiapkan proyek pengembangan Penataran Angkatan Laut (PAL) Surabaya menjadi sentra industri perkapalan pertama di Indonesia. Pal waktu itu merupakan galangan tua yang tugas pokoknya merawat dan memprbaiki kapal-kapal TNI-AL, di samping membangun kapal niaga bertonase dibawah 1000 ton. Suleman dkk. meng up grade instalasi milik TNI-AL itu menjadi industri perkapalan yang modern dan mengarahkannya menjadi agen pengembangan industri kelautan nasional.

Mengapa hanya PAL yang dikembangkan? padahal ada beberapa titik lain yang juga di canangkan menjadi sentra industri maritim di Indonesia?
Jawabnya, kondisi keuangan pemerintah tidak memungkinkan untuk membangun semuanya secara bersamaan. Setelah PAL berkembang di harapkan galangan-galangan lain ikut berkembang. PAL menjadi pilihan pertama untuk di kembangkan, karena galangan ini sudah punya fasilitas harkan, serta lahannya cukup luas sehingga memungkinkan berbagai fasilitas untuk memproduksi kapal di bangun di sana. Pertimbangan lain yang tidak kalah penting adalah, lokasinya dekat dengan Kawasan Timur Indonesia yang urat nadi perekonomiannya sangat bergantung pada ketersediaan sarana Angkatan Laut. Karena proses modernisasi PAL terkait dengan beberapa pihak, antara lain TNI-AL yang memiliki fasilitas PAL, Departemen Perindustrian, Dirjen Perhubungan Laut, maka di bentuk Tim Adhoc, yang terdiri dari beberapa unsur tersebut.

Tim mengadakan rapat berkala yang hasilnya selalu dilaporkan kepada Habibie sebagai pimpinan proyek. Dalam rapat-rapat tersebut dibahas  berbagai konsep pengembangan  PAL. "Tiap minggu kami mengadakan rapat, dan kita siapkan corporate planning-nya" ungkap Suleman.

Tim mengundang konsultan dari Luar Negeri. Di antaranya dari Howaldts-Deuutsche Werft, Kiel (Jerman), DCN, Lorient (Perancis), Blohm + Voss AG, Hamburg (Jerman), dan Rhein Schelde Verolme, Rotterdam (Belanda). Sesudah melakukan survei ke PAL, para konsultan itu memberikan masukan mengenai konsep pengembangan galangan tersebut.

Disamping itu, Tim melakukan studi perbandingan ke luar negeri, se perti ke Perancis, Belanda, Inggris, Jerman, Jepang dan Amerika Serikat.
Agustus 1978, satu delegasi dari Indonesia, termasuk Seleman di dalamnya, berkunjung ke Howaldts-Deutsche Werft (HDW) di Kiel, Jerman. Disana mereka membahas draft corporate planning, bersama sejumlah pakar dari HDW, FLW, Ferrostaal, dan lain-lain. Anggota delegasi selain Suleman adalah Laksmana Pertama Parapat, Kol. Hariadi, Letkol. Suparto, Dipl. Ing. Sony Harsono, Dipl. Ing. MSM Harahap, dan Dipl. Ing. Budiarta Soeradhiningrat. Para ahli dari Jerman yang menjadi mitra kerja mereka adalah Spielmann, Knorre (FLW), Awolin, Ganschienitz (HDW), Lindner, dan Loekenhoff (Ferrostaal).

Hasil pembahasan selama 10 hari di Kiel itu adalah suatu corporate planning yang cukup komprehensif. Lengkap dengan budget dan cash flow planning-nya. Tak lama kemudian, Habibie, yang baru saja diangkat menjadi Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), mempresentasikan konsep pengembangan PAL menjadi industri kapal modern, dalam Sidang Kabinet Terbatas Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri (Ekuin) yang dihadiri pula oleh Presiden Soeharto, Corporate planning yang dibawa Suleman dkk dari Kiel, merupakan bahan amat penting untuk presentasi itu.

Suleman hanya menyaksikan Sidang Kabinet itu dari balik kaca di Gedung Binagraha. Sehingga tidak tahu persis respon Presiden Soeharto dan para Menteri Ekuin terhadap presentasi itu. Yang jelas, Habibie kemudian mengisyaratkan go head kepada Suleman. Artinya. "Teruskan proyek pengembangan PAL sesuai rencana".
Suleman dan timnya pun terus memantapkan corporate planning dan lain-lain -- sesuai instruksi Habibie. Hingga pada penghujung tahun 1978, proses pengembangan PAL memasuki babak baru, dengan diresmikannya galangan tersebut menjadi Perusahaan Umum (Perum). Tanggal 14 Desember 1978, Habibie mengumumkan susunan direksi Perum PAL :
 * Direktur Utama : B.J. Habibie
 * Direktur Teknologi : Suleman Wiriadidjaja
 * Direktur Produksi : Kol. Ir. Sukandar (Alm)
 * Direktur Umum : Laksamana Pertama Soekono
 * Direktur Harkan : Kol. Laut Ir. Hariadi Sumarsono

Sebelumnya, langkah Habibie untuk membuat lembaga counterpart Bappenas dalam bidang teknologi juga mencapai babak baru dengan keputusan Presiden Soeharto tanggal 22 Agustus 1978, untuk melepas Divisi ATP dari Pertamina, dan mendirikan Badam Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Tanggal 2 Oktober 1978, Habibie mengumumkan susunan Pimpinan BPPT :
 * Ketua : B.J. Habibie
 * Wakil Ketua : Parlin Napitupulu
 * Sekretaris : Edi Sutrisno
 * Direktur Pengembangan Teknologi : Harsono Pusponegoro
 * Direktur Pengkajian Ilmu Dasar dan Terapan : Suleman Wiriadidjaja
 * Direktur Pengembangan Kekayaan Alam : Subagio
 * Direktur Pengkajian Industri : Rahardi Ramelan
 * Direktur Analisa Sistem : Burhan Napitupulu
 * Direktur Sarana Teknologi : Parlin Napitupulu

Waktu itu, selain Ketua dan Wakil Ketua, belum ada jabatan Deputi (Eselon 1) di BPPT. Baru pada 1982 diadakan restrukturisasi ini, Suleman menjabat Deputi Bidang Analisa Sistem, sebelum menjadi Deputi Bidang Pengkajian Industri.

Selama setahun PAL berstatus Perum, adalah masa transisi untuk menjadi Persero. Dalam masa ini PAL belum mengerjakan proyek-proyek pembangunan kapal baru. Suleman baru merintis kontrak-kontrak kerjasama alih teknologi rancang bangun kapal dengan pihak luar negeri.
R. Boediwahono, mantan General Manager Divisi Kapal Perang PT PAL, mengungkapkan bahwa sekitar tahun 1979 sudah ada tim yang melakukan kegiatan untuk mengembangkan PAL menjadi industri rancang bangun kapal. "Tapi setahu saya kegiatan itu sebagian besar dilakukan di Jakarta dan Jerman", ungkap Boediwahono, yang kala itu bekerja di Bagian Harkan Perum PAL. "Saya cuma melihat anggota tim sering datang meninjau PAL. Di antaranya yang saya ingat adalah : Pak Suleman, Pak MSM Harahap, dan Pak Hariadi (Soemarsono)". Sesekali juga datang ke sana.

Memang, kegiatan-kegiatan Suleman dan timnya dalam mengembangkan PAL waktu itu masih berbasis di Jakarta. Termasuk kegiatan membuat konsep pembangunan fasilitas-fasilitas modern untuk memproduksi kapal. Pal waktu itu merupakan galangan tua, dan secara tradisional hanya melayani Harkan kapal-kapal perang TNI-AL. "Maka kami harus lebih dulu mereformasi PAL agar menjadi galangan modern", tukas Suleman. "Kita harus tingkatkan dahulu fasilitasnya, kemampuan engineeringnya, juga sumberdaya manusianya, dengan mengadopsi sistem rancang bangun dan Harkan kapal yang sudah berjalan baik  di negara maju".

Dari pemikiran itu, Suleman merintis kerjasama dengan galangan-galangan di Jerman, untuk membuat konsep pembangunan fasilitas manufaktur kapal perang, dan dengan Jepang untuk kapal niaga.
Pada kurun waktu yang sama, Suleman menyiapkan konsep disain kapal yang akan di bangun di PAL. Untuk itu direktur sejumlah insinyur dari perguruan tinggi di Indonesia.
Langkah strategis lain yang ditempuh Suleman adalah menjalin kerjasama untuk menggarap proyek pembangunan kapal dengan galangan yang sudah maju di luar negeri. Sambil menyiapkan personil untuk menguasai teknologi rancang bangun kapal.
Waktu itu organisasi Perum PAL masih tambal sulam. Sebagai Direktur Teknologi, Suleman belum punya struktur organisasi. Baru pada pertengahan November 1979, di adakan pengangkatan sejumlah Staf Direktorat Teknologi (Dittek) Perum PAL, untuk mengantisipasi meningkatnya kegiatan PAL khususnya dalam menangani proyek-proyek pembuatan kapal. Staf tersebut adalah :
 * Kasubdit Engineering : Dipl. Ing. MSM Harahap
 * Kasubdit Senjata dan Elektronika : Mayor Ir. Wulang Widada
 * Kasubdit Litbang : Dipl. Ing. Budiarta Soeradhiningrat
Tanggal 7 Desember 1979, Suleman mendampingi Habibie untuk melakukan expose di Markas Besar TNI-AL. Di situ Habibie mengemukakan bahwa bagaimanapun PAL lahir dari kandungan TNI-AL, dan Harkan akan menjadi market terbesarnya. Lebih jauh, kata Habibie, status PAL perlu dirubah menjadi PT (Persero) supaya tidak membebani "ibunya".

Selanjutnya, 11 Desember 1979, diadakan rapat yang di pimpin Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) J.B. Sumarlin, membahas tindak lanjut atas petunjuk Presiden bahwa PAL harus di rubah menjadi PT agar lebih luwes. Suleman menghadiri rapat tersebut. Peserta rapat antara lain adalah Mar'ie Muhammad (yang waktu itu masih Direktur/Pejabat Eselon II di Departemen Keuangan), Parlin Napitupulu, Hamid, Yogi, Laksamana Pertama Parapat, dan Abdurachman. Di antara keputusan tersebut adalah membuat konsep struktur permodalan, menyiapkan susunan direksi atas usul Dephankam dan Habibie, serta membentuk tim evaluasi yang terdiri dari Parapat, Mar'ie Muhammad, Abdurachman, serta unsur dari BPPT dan PAL.

Awal Maret 1980, Suleman menghadiri rapat panitia pemprosesan PAL Persero. Rapat yang di pimpin Dirjen ILMD Departemen Perindustrian Suhartoyo ini untuk menentukan modal dasar dan nama perusahaan PT PAL Indonesia.

Akhirnya dengan Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 1980 dan dengan Akte Pendirian tertanggal 15 April 1980, PAL resmi menjadi Persero. Satu babak lagi terlewati.

PT PAL, Kemandirian Negeri Bahari (1)

Read more...

PT PAL, Kemandirian Negeri Bahari (1)

STAR50 - PT PAL
"Kita Bisa menciptakan kekayaan untuk rakyat"

Industri Perkapalan Indonesia sampai era 1970-an masih terbelakang. Galangan-galangan di sini baru menghasilkan kapal-kapal bertonase 1000 ton ke bawah. Mereka pun lebih berkonsentrasi pada pemeliharaan dan perbaikan kapal (Harkan). Sementara perusahaan-perusahaan pelayaran nasional skeptis terhadap kemampuan galangan lokal, sehingga lebih suka memanfaatkan jasa galangan pembangun dan Harkan di mancanegara.

Di tengah kondisi demikian, sejak 1977 Suleman Wiriadidjaja  menjadi aktor di belakang B.J. Habibie dalam mengembangkan Penataran Angkatan Laut (PAL), Surabaya, menjadi pusat keunggulan dan ujung tombak industri perkapalan di Indonesia. Guna memacu dan mempromosikan kemampuan galangan dalam negeri.
Suleman tidak pernah menjadi pucuk pimpinan (Direktur Utama) di PAL, sejak galangan ini dikembangkan menjadi Perusahaan Umum (Perum) pada Desember 1978 dan Perseroan Terbatas (PT) pada April 1980. Jabatan tertingginya di PAL adalah Koordinator Kegiatan (Senior Executive Vice President).

Jabatan Direktur Utama sejak PAL berstatus Perum di pegang Habibie sampai ia lengser pada Maret 1998. Bersamaan dengan itu, Suleman lengser pula dari posisi Koordinator Kegiatan, untuk selanjutnya menjadi Komisaris Utama.
Namun selama di Direksi PAL, Suleman memperoleh kepercayaan penuh dari Habibie untuk mengendalikan operasional dan mengambil langkah-langkah guna mengembangkan PAL. Jadi, meski tak pernah secara formal menjadi pucuk pimpinan di sana. Suleman selama hampir dua dekade memotori upaya memajukan BUMN ini.

Ia merawat dan membesarkan PAL bukan saja dengan sense of maritime technology-nya yang menonjol, tapi juga dengan sentuhan kejujuran, konsistensi, ketegasan, kedisiplinan, serta ketulusannya. Semau itu amat berarti. Sebab sebuah perusahaan, apalagi yang di dalamnya terdapat ribuan pegawai seperti PT PAL, mesti didukung fasilitas dan strategi manajemen yang canggih, akan rapuh jika pimpinannya tidak secara sungguh-sungguh memberikan sentuhan-sentuhan tersebut.

Alhasil, PAL lambat laun menguat dari segi kemampuan organisasi maupun teknologinya, sehingga mampu memainkan perannya sebagai ujung tombak industri perkapalan nasional. Performanya paling menonjol di antara sejumlah BUMN binaan Habibie.

Awal 1988, ketika di PT PAL sudah beredar isu bahwa Suleman akan lengser, para manajer di BUMN itu mengadakan rapat yang menghasilkan kesepakatan menobatkan Suleman sebagai "Pendiri dan Sesepuh PT PAL". Pertimbangannya, Suleman telah berjasa besar membina galangan ini.

Penobatan dilakukan dalam sebuah acara perpisahan yang di adakan keluarga besar PT PAL, di Surabaya, segera setelah Suleman positif lengser. Dalam kata sambutannya setelah menerima penobatan itu, Suleman menyatakan "PT PAL adalah batu loncatan saya untuk mengembangkan industri kelautan Indonesia secara keseluruhan".
Pernyataan di atas bukanlah hanya slogan semata. Melalui PT PAL ia merintis dan menggerakkan proyek-proyek yang merupakan mata rantai dari upaya mengembangkan industri maritim nasional. Di satu sisi, membangun kemampuan Indonesia dalam rancang bangun kapal modern. Di sisi lain, membantu pengadaan armada industri pelayaran nasional. Juga membantu menyediakan kapal-kapal untuk keperluan riset kelautan (eksplorasi mineral di bawah laut, dsb.), kegiatan penangkapan ikan, dan keperluan lain yang terkait dengan kelautan.

Pada awal 1980-an ia menyiapkan proyek rancang bangun kapal tanker 3.500 Dwt untuk Pertamina. Maksudnya membuat gebrakan untuk menunjukkan bahwa Indonesia mampu merancang bangun kapal sekelas itu, ketika berbagai pihak di dalam negeri tidak percaya akan kemampuan tersebut.
Terbukti, tiga galangan nasional (termasuk PT PAL) mampu memproduksi lima kapal dalam proyek ini.

Sekitar tahun 1982, ia menyiapkan proyek rancang bangun kapal barang umum 3.000 Dwt di PT PAL. Ini lantas di kembangkan menjadi proyek nasional dengan nama Caraka Jaya (CJ) pada 1984, menyusul rencana Pemerintah membesituakan kapal-kapal berusia 25 tahun ke atas, sehingga di perlukan kapal-kapal baru sebagai penggantinya.

Suleman berperan sebagai Ketua Tim Pengarah Proyek  CJ yang sekaligus dijadikan wahana untuk mengembangkan galangan-galangan di Indonesia. Rata-rata galangan-galangan yang di libatkan sebelumnya baru menghasilkan kapal-kapal bertonase maksimal 1.000 Dwt. Sehingga Proyek CJ merupakan batu pijakan mereka untuk memproduksi kapal yang lebih besar lagi.
Sementara itu, CJ membantu menghidupkan kembali dinamika industri pelayaran Indonesia, setelah kapal-kapal tua mereka di larang beroperasi. Sampai Tahap II, proyek ini sudah menghasilkan 32 kapal yang telah di operasikan dan menjadi tulang punggung sejumlah pelayaran nasional.
Ketika Proyek CJ masih bergulir, Suleman menyiapkan Proyek Palwo Buwono, yang merupakan lompatan dari CJ. Ia menjadi Ketua TIM Pengarah Proyek Pengadaan Kapal Kontainer 400 Teu dan 1.600 Teu untuk PT Djakarta Lloyd itu.

Suleman merintis kemampuan Indonesia membangun kapal penumpang modern. Dimulai dengan rancang bangun PAX-500 (berkapasitas 500 penumpang), yang basic design-nya di buat PT PAL bersama Galangan Jos L. Meyer, Papenburg, Jerman. Setelah PT PAL berhasil merancang bangun tiga unit PAX-500, tinggal menunggu kesempatan untuk menghasilkan kapal penumpang yang lebih besar lagi (PAX-1000 dan PAX-2000).
Ia pun merancang dan menjadi Ketua Tim Pengarah sejumlah proyek-proyek lain yang masih berkisar pada pembuatan kapal-kapal untuk memperkuat armada industri maritim nasional. Di antaranya Proyek Kapal Maruta Jaya, Kapal Riset Baruna Jaya, Kapal Ikan Mina Jaya, Kapal Tuna Long Line 60 Gt, dan lain-lain.

Kembali ke era 1970-an. Sampe dekade itu, kapal-kapal perang TNI-AL masih dibuat di luar negeri. Sejak dekade 1970-an pula Suleman merintis kerjasama dengan Friedrich Luerssen Werft (FLW), Jerman, untuk membangun FPB-57 di Indonesia. Hingga akhirnya Indonesia (PT PAL) berhasil merancang bangun sejumlah FPB-57 yang kini menjadi "kuda beban" TNI-AL untuk menjaga wilayah perairan Nusantara.
Ia merintis pula kemampuan Indonesia dalam merancang bangun FPB-28. Dimulai dengan membangun 12 unit FPB-28 di PT PAL (1983-1987). Ke-12 kapal pesanan Direktorat Jenderal Bea Dan Cukai itu berkualitas konstruksi lebih baik dibandingkan 12 kapal serupa yang dalam waktu bersamaan dipesan Bea Dan Cukai dari Belgia. Padahal Bea Dan Cukai semula meragukan kemampuan galangan Indonesia untuk membangun kapal tersebut, karena memerlukan teknologi canggih dan sebagainya.

Sekitar tahun 1979, Suleman menggagas pembangunan Laboratorium Hidrodinamika Indonesia (LHI), guna mendukung kemajuan industri perkapalan indonesia. Ini kemudian dijadikan proyek pemerintah melalui BPPT. Habibie selaku Pelaksana Proyek menunjuk Suleman sebagai Ketua Pelaksana Hariannya. Dan Suleman secara konsisten memotori Tim Pelaksana Harian, sampai berhasil merampungkan pembangunan LHI di Surabaya ini, dengan melewati berbagai kesulitan terutama dalam hal pendanaannya.

Di luar jalur birokrasi, Suleman memotori pembentukan organisasi profesi Himpunan Ahli Teknologi Maritim Indonesia (HATMI) pada 1992. Tujuannya antara lain menyatukan berbagai unsur industri maritim Indonesia untuk bersama-sama mengembangkan industri ini. Kalau sampai dua kali berturut-turut ia menjadi Ketua Umum HATMI (1992-1097 dan 1997-2000), menurut beberapa tokoh di HATMI, itu lantaran anggota  HATMI belum menemukan figur selain Suleman yang bisa secara konsisten memotori dinamika organisasi ini.

Read more...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...