Halaman

Tampilkan postingan dengan label PT Pindad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PT Pindad. Tampilkan semua postingan

Pindad Produksi Motor Penggerak Mobil Listrik 2013

PT Pindad Persero berencana memproduksi motor penggerak untuk mobil listrik secara massal tahun depan, dengan kapasitas 50 Kilowatt (KW). Saat ini, BUMN penghasil panser dan senjata api baru memproduksi satu motor penggerak tersebut.

"Sekarang baru satu yang kita produksi karena menunjukkan kalau kita bisa memproduksinya," kata Direktur Utama Pindad Adik Avianto Sudarsono dihubungi wartawan di Jakarta, Senin (6/8).

Menurut Adik, pembuatan motor penggerak ini seiring dengan diproduksinya mobil listrik yang dimulai tahun depan. Motor penggerak mobil listrik ini sudah diuji coba dan akan diperkenalkan pada Rabu (8/8).

"Pak Dahlan (Menteri BUMN) ke Pindad untuk mengetahui apakah kita sudah siapkan agar bisa diekspos Rabu nanti," ujarnya.

Ia mengharapkan pesanan berdatangan, setelah motor penggerak mobil listrik diperkenalkan. Ia menduga harga motor penggerak itu lebih mahal dibandingkan dengan produksi luar negeri karena komponennya masih diimpor.

"Komponennya bisa tembaga, silicon steel dan itu harus diimpor. Jauh lebih mahal enam kali kalau diproduksi," paparnya.

Ia mengakui motor penggerak berkapasitas 50 KW hanya diproduksi di Indonesia, sementara 15 KW dapat diproduksi oleh negara-negara lain. Namun, motor penggerak 50 KW tidak dijual.

Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah menuturkan selain Pindad, PT Inka Persero juga dapat memproduksi motor penggerak mobil listrik tersebut. Namun, Pindad dianggap sebagai perusahaan yang siap memproduksi motor tersebut.

Author: Susan Silaban (www.imq21.com)

Read more...

Senapan Serbu Pindad Kian Memikat

Senjata ibarat nyawa bagi prajurit TNI.Fungsinya sangat penting sehingga keandalan senjata mutlak diperlukan. TNI sudah mengeluarkan syarat-syarat tipe yang mesti ada dalam sebuah senjata, terutama senapan dan pistol.

PT Pindad,sebagai produsen senjata,bekerja keras memenuhi permintaan senjata TNI maupun Polri, serta pengguna lain,sesuai standar internasional dan spesifikasi yang dibutuhkan pemakai. Diawali dari senapan serbu SS1,Pindad sudah memproduksi varian-varian lain dari senjata ini.Kemudian lahir pula SS2,dengan berbagai varian juga.Setiap varian dirancang dengan spesifikasi khusus disesuaikan kebutuhan user.

Pindad pada 2008 mengembangkan SS2- V1kaliber 5,56 mm sebagai senjata yang digunakan prajurit Kostrad.Senjata berkemampuan jarak tembak 450 meter itu dimodifikasi, sehingga selain makin menarik penampilannya,juga memudahkan pengguna dalam mengoperasikannya. Pegangan jinjing di bagian atas dihilangkan,diganti picatini rail,dudukan untuk memasang teleskop berstandar internasional.Picatini rail juga dipasangkan di sisi kiri bodi.

Fungsinya untuk senter cahaya maupun senter bidik. Bagian popor juga dimodifikasi tanpa menghilangkan ciri khas senapan Pindad yang dapat dilipat.Perbedaannya, ada pada model yang membuatnya bisa digeser maju mundur. Untuk pegangan depan, dipasang front gripmenyerupai pegangan belakang. Berbeda dari varian asalnya yang langsung pada laras. Sekitar 2–3 tahun setelah membuat senjata untuk Kostrad,Pindad kembali mengembangkan SS2-V5 kaliber 5,56 mm.

Secara umum,bentuk pengembangannya sama dengan yang terjadi pada SS1- V1.“Kalau ini untuk Brimob,” kata pegawai Divisi Senjata PT Pindad,Hera,di stan pameran PT Pindad pada APSDEX 2012 di Jakarta, Jumat (23/3). Hera yang memiliki spesialisasi pada bagian pelapisan senjata ini menceritakan, pengembangan senapan serbu untuk Brimob ini membuat bobotnya lebih berat sekitar 0,5 kg,menjadi 3,5 kg. Senapan yang mampu memuntahkan amunisi sejauh 350 meter ini siap digunakan.

Gadis berparas ayu ini pun membagi kisah bagaimana tidak sederhananya proses membuat senapan. Khususnya mengenai bidang kerja,Hera memaparkan,ada tiga jenis pelapisan yang disesuaikan dengan bahannya,yaitu baja, paduan logam alumunium, dan plastik. Pelapisan yang dilakukan harus sesuai syarat-syarat tipe yang dikeluarkan TNI. Misalnya,pelapisan untuk tahan aus,gesek,karat,dan tahan panas.

Juga ada teknik untuk meningkatkan kekerasan material. Bagian paling rumit dalam pelapisan adalah laras,bagian paling vital dari senjata.“Untuk menghasilkan laras yang bagus,harus fokus.Pelapisan laras dilakukan di bagian luar dan dalam,”tutur dia. Produk amunisi juga ramai pembeli.Bahkan,ada kecenderungan PT Pindad tak mampu memenuhi permintaan. “Kita butuh mesin baru.Tapi, itu proses paling cepat sekitar 1,5 tahun,”kata Dirut PT Pindad Andik Avianto.

Sumber : Sindo

Read more...

LIPI Ciptakan Teropong Bidik Malam Senapan

Kemampuan Indonesia di bidang pertahanan dan keamanan sudah sepantasnya disejajarkan dengan negara-negara asing. Salah satu buktinya adalah sudah banyak peralatan pertahanan dan keamanan bangsa yang bisa dibuat di dalam negeri oleh putra bangsa.
Salah satu contohnya adalah Teropong Bidik Malam Senapan (TBMS), buatan para ahli di Pusat Penelitian Kalibrasi, Instrumentasi, dan Metrologi (Puslit KIM) LIPI.
Menurut Ahmad Harimawan, Peneliti Instrumentasi di Puslit KIM LIPI, TBMS ini dirancang khusus untuk membidik/menembak tepat dan pengamatan pada malam hari. TBMS ini terdiri dari rumah utama (housing) yang didalamnya terpasang unit lensa objektif, Image Intensifier generasi 2 yang digabungkan dengan sumber tegangan, dan unit Ocular. Alat ini memiliki kemampuan untuk melihat obyek yang berada pada sumber cahaya yang sangat minim sekalipun, pemakai dapat melihat dan mengamati sasaran tanpa menggunakan bantuan cahaya buatan sehingga tidak mudah terdeteksi oleh musuh.

TBMS ini terutama dirancang untuk digunakan pada senapan infantri TNI seperti type SS1 yang sudah diproduksi 120 unit untuk digunakan di Papua pada thn 2004 dengan senapan mesin dan adaptor yang sesuai. Kalau untuk kalangan Sipil digunakan untuk survey dan penelitian pada waktu malam hari. TBMS sudah teruji kehebatannya. Kemampuan jarak pandang tergantung cuaca alam sekitar. Mis. Kalau ada binatang, bisa dideteksi hingga 300 meter.

LIPI juga sudah membuat Teropong Bidik Siang, dan saat ini sedang mengembangkan teropong bidik generasi keempat yang sudah dibuat para ahli di Puslit KIM LIPI. Generasi pertama dari Teropong Bidik Malam ini, sudah terbukti ketangguhannya ketika TNI berperang melawan Fretlin di Timor-Timur.
Yang membanggakan, lensa optik yang digunakan pada TBMS ini benar-benar dibuat sendiri oleh para ahli LIPI.
“Kualitasnya pun sudah sejajar dengan alat yang diimpor dari luar negeri, diantaranya: -Tahan udara lembab dan kedap air (standard spesifikasi militer), -Tahan terhadap getaran tembakan 500 butir peluru (perubahan kedudukan fisir/titik bidik maksimum 1 klik). TBMS juga dapat digunakan dengan dipegang langsung atau dengan tripod. Dan yang terpenting lagi, dari aspek kemampuan SDM, kita kuat”, tegas Harimawan.

Namun menurut Harimawan, TBMS masih mempunyai kelemahan, yaitu tidak mampu menembus kabut Hal ini akan terus dicari solusinya oleh para ahli LIPI. Kendala lain yang ditemui para ahli kita di LIPI selama mengembangkan TBMS ini, diantaranya kenadala teknis dan juga sosialisasi dari pengembangan industri TBMS. Untuk produksinya masih mengalami hambatan kekurangan dana, dan untuk sosialisasinya harus mengikuti prosedur/ birokrasi.

Akan ada banyak teknologi yang akan dikembangkan dalam pembuatan TBMS ini nantinya. Tentu saja, para ahli di LIPI menginginkan perkembangan ini akan menambah daya guna bagi TBMS.
Akhirnya, Harimawan, mewakili para ahli di LIPI mengharapkan support dari pemerintah. Diharapkan pemerintah membentuk industri teknis untuk mensupport hasil/produk peneliti, khususnya produk Hankam. Misalnya dengan membuat Industri Strategis. Diharapkan juga Kementerian Ristek dapat mendiseminasikan iptek kepada instansi terkait untuk dapat dikembangkan lebih lanjut, supaya tidak sia-sia.

(Ristek.go.id)

Read more...

PT Pindad, Dinamika Inovasi Teknologi

Industri pertahanan dan keamanan (hankam) bagi negara manapun merupakan hal yang niscaya dan merupakan kemestian. Ia menjadi penting karena industri hankam menyediakan sumber daya yang dibutuhkan bagi pertahanan dan keamanan. Hal inilah yang menyebabkan dimanapun industri hankam menjadi strategis dan memberikan ruang yang besar bagi negara untuk melakukan intervensi. Sehingga setiap negara berusaha untuk mengembangkan industri hankamnya sendiri agar mandiri.


Ketergantungan yang tinggi pada pihak asing terhadap peralatan dan produk hankam, selain menguras devisa juga akan mengandung kerawanan bagi kedaulatan dan pertahanan negara yang bersangkutan. Dalam perang teluk kemarin, ternyata sebagian peralatan militer Amerika tergantung pada komponen industri sipil buatan Jepang. Untuk Indonesia, embargo terhadap peralatan dan jasa di bidang pertahanan dari Pemerintah Amerika Serikat cukup mengganggu kinerja sistem hankam kita. Jadi mau tidak mau Indonesia harus terus-menerus berusaha mengembangkan industri dan teknologi hankamnya sendiri secara mandiri.


Dalam kaitan inilah studi ini menjadi penting dan menemukan maknanya secara signifikan. Studi ini akan melihat proses akumulasi dan pembelajaran yang terjadi di salah satu industri hankam Indonesia yaitu PT PINDAD. Dari sini diharapkan akan terlihat usaha dan kebijakan apa saja yang perlu dilakukan agar industri hankam kita mampu secara mandiri memenuhi kebutuhan pertahanan dan keamanan secara efisien dan memadai.

Studi tentang pembelajaran dan inovasi teknologi dengan perusahaan sebagai unit analisis sungguhlah penting, karena untuk banyak negara berkembang perusahaanlah yang sesungguhnya berperan besar dan merupakan aktor kunci dalam pengembangan kemampuan teknologi nasional. Terlalu memfokuskan diri, menaruh harapan besar dan bertumpu pada lembaga-lembaga riset pemerintah sebagai aktor kunci pengembangan teknologi nasional sebagaimana yang telah dan masih terjadi di negara kita tidak saja merupakan sesuatu yang salah kaprah tapi juga fatal buat pengembangan teknologi nasional ke depan dan kemandirian ekonorni dalam jangka panjang.

Pembelajaran teknologi bukanlah proses yang terjadi begitu saja tetapi merupakan bagian dari usaha sadar untuk mengakumulasi pengetahuan dan kemampuan teknologi. Proses-proses yang terjadi dapat meliputi pencarian teknologi, pemilihan, akuisisi, asimilasi, adaptasi, peningkatan kualitas dan diversifikasi teknologi. Karenanya proses pembelajaran tersebut jauh dari sifat statis, bahkan seringkali sangat dinamis.

Tulisan ini akan menguraikan dan menggambarkan proses pembelajaran yang terjadi di PT PINDAD. Proses tersebut akan dibagi menjadi beberapa tahap yang menggambarkan peningkatan teknologi yang dialami dalam proses produksinya. Tahapan ini dibagi berdasarkan peningkatan kemampuan produksi dan teknologi. Tahapan ini dimaksudkan untuk mempermudah dalam melihat proses akumulasi kemampuan teknologi yang terjadi selama ini di PT PINDAD.

Di bagian berikutnya akan dilakukan pembahasan diskusi dengan menggunakan model analitis yang akan mengidentifikasi beberapa hal yaitu produk PT PINDAD, kemampuan produksi, kemampuan teknologi, faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran, sumber pembelajaran serta mekanisme pembelajarannya. Namun sebelum itu akan diringkaskan sedikit tentang kerangka teori yang digunakan serta latar belakang dan sejarah PT PINDAD agar pembahasan nanti dapat diletakkan dalam konteks yang tepat dan memadai.



Latar Belakang dan Sejarah

PT PINDAD mempunyai tradisi yang panjang dalam kegiatan produksi dan desain produk seperti senjata dan amunisi. Sejarah pengembangan pabrik senjata dan amunisi dimulai pada tahun 1808 dengan didirikannya Artillerie Constructie Winkel di Surabaya. Keberadaan pabrik ini mengalami perjalanan waktu yang lama dan panjang serta telah mengalami perubahan nama beberapa kali sejak jaman penjajahan. Pada tahun 1924 pabrik ini digabung menjadi dengan pabrik amunisi ringan dan berat dan juga material eksplosif yang diberi nama Artillery Plant.

Pabrik tersebut kemudian diserahkan dari Pemerintah Belanda kepada Pemerintah Indonesia yang dikemudian diberi nama resmi Pabrik Senjata Munisi (PSM), di bawah manajemen Tentara Nasional Indonesia (TNI). Pada tahun 1979 namanya diubah menjadi Perindustrian Angkatan Darat (PINDAD). Pada tanggal 29 April 1983, statusnya berubah menjadi perusahaan milik negara yang diberi nama PT PINDAD (Persero) dan dalam Keppres No. 44 tanggal 29 April 1989 dimasukkan ke dalam industri strategis yang dikelola oleh Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS) yang sekarang telah dibubarkan.

Sejak tahun 1983 PT PINDAD telah menambah kemampuannya untuk memproduksi produk-produk nonmiliter seperti generator, mesin perkakas dan berbagai macam peralatan mekanis dan listrik lainnya.

Aktivitas utama PT PINDAD adalah melakukan bisnis di bidang alat dan peralatan yang akan membantu pada kebijakan yang independen dalam pertahanan dan keamanan dan juga alat dan peralatan. Dilihat dari produknya PT PINDAD terdiri dari dua direktorat yaitu Direktorat Produk Militer dan Produk Komersial. Direktorat Produk Militer terdiri dari Divisi Amunisi, Divisi Senjata dan Unit Bisnis Workshop dan Prototipe. Sedangkan Direktorat Produk Komersial terdiri dari Divisi Mekanik, Listrik, Forging dan Pengecoran, Unit Bisnis Tool Shop, Stamping dan Laboratorium.

Divisi Amunisi memiliki fasilitas produksi yang berlokasi di Turen, Malang, Jawa Timur. Untuk memenuhi kebutuhan permintaan pemerintah dan juga pengembangan produk, fasilitas produksi dilengkapi dengan pendirian Filling Plant untuk mendukung produksi mortar shells, bom, TNT blocks, shaped charges dan lain-lain. Saat ini Divisi Amunisi telah menjadi divisi yang dapat diandalkan dan tetap mampu memproduksi berbagai jenis amunisi dan logistik militer, pyrotechnics and peralatan untuk mendukung kebutuhan pemerintah maupun swasta.

Hampir semua produk Divisi Amunisi telah melalui berbagai pengujian sesuai dengan standar NATO dan juga militer Amerika Serikat. Penelitian dan pengembangan telah dilakukan untuk mendapatkan analisis yang akurat terhadap desain dan kinerja produk. Fasilitas laboratorium kimia dan pengujian tembakan juga tersedia untuk mencapai standar yang diinginkan. Fasilitas produksi saat ini sudah dapat memproduksi peluru kaliber 9 mm, 5,56 mm (SS109 and M193), 7,62 mm, 12,7 mm, 0.38", dan mempunyai filling plant, pyrotechnic, tool shop, stamping, dan perlakuan panas.

Divisi Amunisi juga telah membangun gudang khusus untuk penyimpanan sementara agar material dan produk terjaga kondisinya. Manajemen penyimpanan diterapkan agar amunisi tetap dalam kondisi yang prima dan terjaga. Untuk mendapatkan produk yang berkualitas tinggi, kontinuitas produksi dan pasokan, pemeliharaan fasilitas produksi dilakukan secara teratur dan berkala. Tenaga kerja berkeahlian dilatih secara profesional baik di dalam maupun luar negeri di bidang produksi. Bantuan teknis disediakan untuk memandu proses produksi agar menghasilkan pasokan produk yang optimal.

Divisi ini juga telah mendapat sertifikat ISO 9001 dari SGS Yearsly-International Certification Services Ltd, Inggris pada tahun 1994. Semua proses produksi harus memenuhi standar ini. Salah satu unsur penting dalam menerapkan standar ini adalah menvediakan penggunaan sistem Statistical Process Control (SPC).

Divisi Senjata memiliki fasilitas produksi yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Fasilitas yang ada tersebut membuat mereka dapat melakukan semua aktivitas desain, manufaktur, pengembangan, pengujian dan bantuan teknis kepada pernakai semua produknya. Kegiatan desain dilakukan dengan bantuan alat-alat modern. Perangkat lunak CAD (Computer Aided Design) dan simulasi dilakukan oleh komputer tersendiri dalam sebuah laboratorium sebagai bagian dari kegiatan desain itu sendiri. Kekuatan dan kinerja produk diteliti secara terus-menerus untuk mendapatkan peningkatan kualitas dan keandalan produk. Proses manufaktur dengan standar yang tinggi sesuai dengan tuntutan yang ada dimungkinkan dengan adanya tenaga kerja yang berkeahlian tinggi yang didapat melalui perjalanan dan pengalaman yang panjang. Tenaga kerja di Divisi Produk Militer memiliki keahlian khusus seperti desain produk, balistik, sistem inventarisasi, pemeliharaan senjata dan lain-lain. Divisi ini juga melakukan investasi yang besar dalam pengadaan mesin perkakas yang modern. Sistem penjadwalan dan pengendalian produksi yang dibantu komputer memungkinkan dilakukan penyerahan produk sesuai dengan waktu yang ditentukan.

Untuk memenuhi kebutuhan nasional dan juga ekspor Divisi Senjata melengkapi fasilitas produksi dengan beberapa produk dan juga fasilitas pendukung lainnya seperti rifles, senapan serbu (SSI-V1, SS2-V2, SS1-V3, SS1-V5), senapan sniper (SPR-1), pistol (P-1, P-2), revolver (R1-V1, R1-V2, RG-1 (type A), RG-1 (type C)), senapan sabhara/polisi (Sabhara V1 and Sabhara V2), senjata penjaga hutan, pistol profesional magnum, peluncur granat, dan pelindung tubuh (personal body protection).

Divisi Mekanik terbentuk sebagai unit bisnis pada tanggal 1 Januari 1996. Keputusan untuk mendirikannya sebenarnya merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas bisnis utama PT PINDAD secara integral dan sinergis. Aktivitas utamanya adalah melakukan bisnis di bidang alat dan peralatan industri secara fleksibel dan independen untuk mendapat laba yang pantas dan pertumbuhan industri melalui keunggulan teknologi dan efisiensi. Produk yang dihasilkan dari divisi ini diantaranya adalah mesin perkakas, mesin pengolah kayu, sistem rem udara kereta api dan permesinan dek kapal laut.

Divisi Listrik (Divtrik) yang didirikan pada tanggal 1 Januari 1996 sekarang dikenal sebagai salah satu penghasil peralatan energi dan transportasi terbaik di Indonesia. Mereka juga menyediakan pelayanan pemeliharaan dan perbaikan alat-alat tersebut. Divtrik ini juga memproduksi konstruksi baja dan berbagai jenis produk fabrikasi. Produk yang dibuat saat ini adalah synchronous generators, motor traksi, panel kontrol, gear cases, jib cranes, peralatan mesin dek kapal laut dan komponen mesin perkakas. Divtrik terdiri dari dua departemen produksi yaitu fabrikasi dan perakitan yang menempati areal seluas 48,000 meter persegi.

Departemen Fabrikasi menempati areal seluas 5,200 meter persegi (indoor) dan 2,000 meter persegi (outdoor). Konstruksi logam dari generator, motor, pressure vessels, gear cases, jib cranes, deck machineries dan mesin perkakas dibuat di sini. Sementara Departemen Perakitan yang menempati areal seluas 8,025 meter persegi melakukan kegiatan perakitan, pemeliharaan dan perbaikan mesin dan alat listrik (generator, motor, trafo) and VCB. Fasilitas produksi Divtrik sekarang ini adalah yang terlengkap peralatannya di Indonesia.

Unit Bisnis Tool Shop memiliki kemampuan untuk memproduksi berbagai produk dengan akurasi yang tinggi mencapai 1 mikrometer. Kemampuan ini didukung oleh fasilitas mesin dan tenaga kerja yang terlatih dan berkeahlian tinggi. Produk yang dikeluarkan antara lain alat pemotong, jigs & fixtures, komponen berpresisi tinggi dan gauges.

Unit Bisnis Stamping sudah memiliki kemampuan yang unggul seperti untuk proses cutting seperti blanking, piercing, nothcing, cropping, parting, lanzing, semi nothcing, shaving dan trimming. Sementara untuk forming plat logam mereka dapat melakukan bending, flanging, coining, semi pierching, deep drawing, crimping, curling, forming dan collar drawing. Produk yang telah dihasilkan antara lain internal/external gear, komponen otomotif, kotak meter listrik, rat duster, komponen senjata, tool box, food plate, komponen salon, komponen mesin tekstil dan blade knife.

Unit Bisnis Laboratorium dapat melakukan berbagai macam pengujian dan pelayanan kalibrasi baik untuk produk militer maupun komersial. Tenaga ahlinya sudah memiliki kualifikasi dan sertifikasi dan untuk menjaga keabsahan hasil pengujian dan kalibrasi PT PINDAD senantiasa mengikuti prosedur yang ditetapkan organisasi APLAC (Asia Pasific Accreditation Committee). Laboratorium kalibrasi PT PINDAD adalah anggota Calibration National Network dan memiliki akreditasi dari ISO.IEC Guide 25 (DSN 01-1991). PT PINDAD juga mengikuti persyaratan industri yaitu dengan memiliki sertifikat standar ISO 9001, ISO 9002, and ISO 9003.

Saat ini PT PINDAD telah melakukan kerjasama membentuk perusahaan joint venture antara lain dengan :
� PT Fanuc GE Automation Indonesia, yang produk dan layanannya adalah mesin CNC, rekayasa otomatisasi pabrik dan PLC
� PT Siemens Indonesia, yang produk dan layanannya adalah MV/LV Switchgear dan Machinery
� PT GHH Borsig South Fast Asia, yang produk dan layanannya adalah konstruksi dan pemeliharaan turbin uap dan gas
� PT Lucas-PINDAD Aerospace Indonesia, yang produk dan layanannya adalah pembuatan dan perakitan komponen pesawat terbang



Tahapan Pengembangan Kemampuan Teknologi di PT PINDAD

Pembelajaran dan inovasi teknologi adalah proses besar yang dinamis, butuh waktu, biaya dan tidak terjadi secara otomatis. Pengalaman PT PINDAD sebagaimana akan diuraikan berikut ini setidaknya memberikan gambaran tentang dinamika itu.

A. Pembentukan Kemampuan Dasar (1808 - 1950)

PT PINDAD adalah perusahaan warisan Pemerintah Kolonial Belanda. Awalnya adalah bengkel persenjataan tentara Belanda yang berlokasi di Surabaya. Pada masa itu kegiatan yang dominan adalah pemeliharaan senjata artileri mereka. Aktivitas ini terus berlangsung sampai selesai Perang Dunia I. Dari aktivitas ini, sedikit demi sedikit pengetahuan yang bersifat tacit dan teknologi senjata dan artileri dapat diakuisisi. Pada perkembangan selanjutnya lokasi pabrik kemudian berpindah ke Bandung. Pada tahun 1924 dimulailah kegiatan produksi amunisi untuk pertama kali. Sebagaimana yang telah disebutkan di atas setelah Perang Dunia Pertama pabrik ini digabung menjadi dengan pabrik amunisi ringan dan berat dan juga bahan eksplosif. Pada saat itu pula dimulailah tahap pembuatan senjata dengan tingkat teknologi yang ada pada waktu itu.

Untuk menunjang kemampuan manufaktur senjata diadakanlah investasi alat-alat produksi. Pengecoran merupakan kemampuan yang utama pada saat itu karena pembuatan senjata banyak melibatkan proses ini. Sebut saja misalnya senjata laras panjang maupun pendek, meriam dan pelurunya yang berbentuk bulat. Ini semua membutuhkan keahlian pengecoran yang akurat. Dengan pembelajaran terus� menerus melalui proses maka sedikit demi sedikit kemampuan pengecoran yang baik dimiliki oleh PT PINDAD.

Setelah itu fasilitas produksi tersebut diambil alih oleh Pemerintah Indonesia. Sebagian pekerjanya terutama warga pribumi tetap bekerja di sana. Hal ini menyebabkan akumulasi teknologi baik yang eksplisit maupun tacit yang terjadi selama ini sebagian tetap terjaga.

B. Akuisisi dan Asimilasi Kegiatan Produksi Senjata Militer Berkaliber Kecil (1950 - 1983)

Pada tahun 50-an dimulailah kegiatan produksi senjata militer berkaliber kecil dengan fasilitas produksinya diimpor dari Italia. Pembuatan amunisi dimulai juga tahap ini. Sejarahnya dimulai dengan pengambilalihan Cassava Factory (Pabrik Tepung Ubi Kayu) di Turen, Malang, dari Pemerintah Kolonial Belanda oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Pabrik ini tidak didirikan di Bandung karena faktor keamanan yang mengharuskan pembuatan mesiu jauh dari pemukiman penduduk. Aktivitasnya dimulai dengan memproduksi peluru kaliber 12.7 mm pada tahun 1968, diikuti dengan kaliber 7.62 mm dan kaliber 9 mm pada tahun 1970 serta kaliber 3.56 mm pada tahun 1973.

Pertumbuhan dan perkembangan fasilitas produksi ini tidak tetap dan terhambat oleh banyaknva perubahan status legalitas dan juga oleh kondisi keuangan yang tidak stabil selama berada di bawah pengelolaan Angkatan Darat. Hal ini karena lembaga ini bukan berstatus bisnis tetapi di bawah badan pemerintah yang pendanaannya tergantung pada anggaran APBN.

Pada tahap ini mereka mulai membuat Pistol P1 yang di-reverse engineering dari model yang telah ada seperti Colt. Dengan kemampuan yang dimiliki, terwujudlah prototipenya. Dengan serangkaian uji coba, PT PINDAD melakukan learning by trying dan by failing. Akhirnya Pistol PI ini memenuhi persyaratan dan menjadi senjata standar (organik) TNI. Senjata jenis Sniper juga mereka buat dengan cara yang sama.

Pindad juga mengembangkan produk nonmiliter. Jadi sejak awal (sebelum bergabung dengan industri strategis) juga telah memproduksi produk komersial. Di antara produknya adalah mobil Jeep (yang dikenal dengan nama VW Banteng), pintu air bendungan dan juga pompa air yang dipakai di pertambangan timah di Pulau Bangka. Untuk pintu dan pompa air proses pembuatannya lebih banyak melibatkan pengecoran. Dengan kemampuan yang ada, mereka membuat cetakan dari semen biasa. Hasilnya kemudian di-machining agar sesuai dengan bentuk desainnya. Mobil Jeep ini dipakai oleh TNI dan juga sebagian dijual untuk umum.

C. Akuisisi Kegiatan Produksi Senjata dan Produk Komersial dengan Lisensi (1983 - 1988)

Pada tanggal 29 April 1983 industri militer ini dimasukkan ke dalam industri strategis dengan nama PT PINDAD (Persero) yang berada di bawah kendali BJ Habibie. Pada masa inilah proses alih dan akumulasi teknologi dilakukan secara sistematis, dinamis dan terprogram. Dengan empat tahap transformasi teknologi, Habibie memulai dengan tahap pertama yaitu produksi senjata dengan lisensi. PT PINDAD kemudian melakukan program manufaktur senjata baru yaitu senapan serbu FNC dengan lisensi dari Fabrique Nationale Herstal (FNH), Belgia. Senapan serbu ini lebih maju dari yang pemah dibuat Pindad karena memenuhi standar NATO. Di dalamnya diaplikasikan teknologi balistik yang baru yaitu bentuk ulir dalam larasnya. Bentuk ulir ini memungkinkan senapan tersebut memiliki akurasi ketepatan yang lebih baik serta memungkinkan untuk dibuat semi atau fully automatic. Untuk mencapai kesempurnaan dalam tahap pertama transformasi teknologi yaitu produksi di bawah lisensi maka diterapkanlah apa yang disebut Progressive Manufacturing Plan (PMP) dengan empat fase yaitu introduction, assembling, partial manufacturing dan terakhir full manufacturing. Personal PT PINDAD dengan dibantu oleh tenaga ahli dari Belgia melakukan program retrofit FNC dimulai dari produksi masal. Pengalaman produksi ini menambah pengetahuan mereka tentang teknologi senjata baik eksplisit maupun tacit. Dengan proses di bawah lisensi pula mortar kemudian diproduksi.

Dengan perjanjian lisensi dengan perusahaan Inggris, Pindad melakukan perakitan 10 unit tank Scorpion. Hal ini menambah pengetahuan baik tacit maupun eksplisit di bidang kendaraan tempur yang kelak kemampuan ini digunakan untuk mendesain dan membuat water canon dan tactical combat vehicle. Perbaikan dan pemeliharaan tank Scorpion juga dilakukan di Pindad. Dalam proses retrofitnya diperlukan waktu 6 bulan untuk tank Scorpion yang pertama. Hal ini karena mereka perlu mempelajari desain dan prinsip-prinsipnya dari tank tersebut. Dengan bantuan pihak Inggris akhirnya proses retrofit dapat diselesaikan. Setelah itu proses retrofit berlangsung cepat. Pengalaman ini menambah tacit knowledge Pindad dalam pembuatan dan desain kendaraan tempur. Kemampuan ini pulalah yang menyebabkan mereka mampu mereparasi 3 unit tank buatan Rusia.

Untuk menekan biaya produksi, Habibie sebagai dirut menetapkan bahwa hanya 20% kekuatan produksi ditujukan untuk produk-produk militer sementara sisanya untuk produk-produk komersial sipil. Namun dalam kondisi darurat, fasilitas produksi militer harus mampu meningkat sampai 80%, bahkan kalau diperlukan sampai 100%.

Investasi fasilitas produksi juga dilakukan besar-besaran. Pindad melakukan melakukan pengkajian selama setahun dari tahun 1983 untuk menentukan barang modal apa yang dibutuhkan. Untuk tungku cor, mereka mendapat jasa konsultan dari IPTN yang telah berpengalaman. Dari tahun 1984 sampai tahun 1993 nilai investasi diperkirakan sekitar 350 juta dolar Amerika. Puncak kegiatan investasi terjadi pada tahun 1987 sampai 1989, dimana dilakukan aktivitas yang sifatnya pengembangan kemampuan teknologi seperti pembelian barang modal yang dilengkapi dengan kegiatan pelatihan bagaimana cara mengoperasikannya di supplier-nya. Untuk mesin bubut vertikal yang dimiliki PT PINDAD mencapai dimensi 3.5 meter, sedangkan mesin bubut horizontal mencapai dimensi 6 meter. Semua kegiatan ini meningkatkan dasar kemampuan produksi dan teknologi karyawan Pindad. Dengan semua investasi ini Pindad menempatkan dirinya pada bisnis yang menghasilkan produk yang berpresisi tinggi.

Produk komersial yang dibuat antara lain adalah generator. Ini merupakan lisensi dari Siemens yang berlaku selama 10 tahun dari tahun 1984 sampai 1994. Pada tahun 1994 karena alasan pasar perjanjian lisensi ini kemudian diperpanjang lagi sampai tahun 2004. Selama masa lisensi, karyawan Pindad mendapatkan pelatihan baik di Jerman maupun di Pindad sendiri, bantuan teknis yang menyangkut proses manufaktur maupun Quality Assurance (QA). Generator dengan tegangan 6 kVolt dan daya 1 sampai 12 MWatt ini berhasil dibuat dengan tingkat pembuatan komponen in-house mencapai 90%. Dengan lisensi Siemens pula, Pindad memproduksi sekring VCB dengan tegangan tinggi (Vacuum Circuit Breaker) untuk tegangan 20 kVolt yang dipakai pada instalasi pembangkit listrik dan substation-nya.

Pada awalnya, bagian produksi baik militer maupun komersial digabung menjadi satu dalam direktorat produksi. Namun dalam perjalanannya akhirnya diubah menjadi dua direktorat terpisah yang berada di bawah pembinaan dirut. Hal ini dilakukan karena nature dari dua produk ini berbeda. Produk militer sementara ini hanya berorientasi kepada satu konsumen yaitu TNI dan Polri dan ini bersifat order� based. Perlu diketahui bahwa setiap produk militer harus memenuhi syarat yang ditetapkan oleh penggunanya yaitu TNI dan Polri. Sementara untuk produk komersial, pasarnya lebih luas dan banyak di mana PT PINDAD lebih punya banyak kebebasan dalam mengembangkan produknya sehingga bisa membuat dan mempengaruhi pasar (genuine creation).

Sumber daya manusia (SDM) adalah modal yang tidak ternilai dan rekan kerja yang strategis bagi perusahaan. Hal lama juga berlaku di PT PINDAD. Pengembangan SDM dilakukan melalui pendidikan formal dan pelatihan yang dilakukan sendiri dan juga lembaga pendidikan baik di dalam maupun luar negeri dengan tujuan mendapatkan kualifikasi profesional untuk mendukung proses pengembangan perusahaan. Pada waktu bergabung kedalam kelompok industri strategis, karyawan PT PINDAD terdiri dari 3 kelompok status yaitu pegawai negeri sipil Dephankam, pegawai negeri yang diperbantukan (seperti pegawai BPl 1) serta pegawai PT PINDAD sendiri. Pada awalnya ini membuat pengelolaan PT PINDAD sebagai institusi bisnis berjalan lambat. Dengan berjalannya waktu akhirnya, suasana bisnis seperti layaknya perusahaan swasta lainnya dapat dirasakan.

D. Adaptasi Desain Senjata dan Produk Komersial (1988 - 1992)

Dengan produksi di bawah lisensi dengan FN Herstal, PT PINDAD melakukan pembelajaran. Dari sini mereka memperoleh kesempatan untuk mempelajari karakteristik senjata tersebut. Mereka juga dapat melakukan perbandingan dari segi desain khususnya dengan senapan buatan Amerika Serikat yang terkenal, M-16. Sehingga pada tahap ini PT PINDAD sudah mampu melakukan adaptasi desain senjata FNC menjadi senapan serbu SS1 berkaliber 5.56 mm yang sekarang menjadi salah satu senjata organik TNI. Senapan SS1 tentu saja bukan senapan biasa karena kemampuan operasinya bisa sekali dan dua kali tembakan. Berdasarkan basil pengujian SSI masih optimal beroperasi pada jarak 600 meter. Beratnya sekitar 4,71 kg dalam keadaan kosong, sementara kalau peluru terisi penuh sekitar 5,07 kg. SS1 juga terbukti memiliki sedikit dampak dan kebisingan. Meskipun tim penguji terdiri dari orang sipil SS1 terbukti dapat diandalkan apalagi dioperasikan oleh tentara yang terlatih. Pembuatan SS1 mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi karena spesifikasi senjata ini mengharuskan ia dapat dioperasikan dalam segala posisi dengan tingkat akurasi tembakan yang tinggi. Bandingkan misalnya dengan sniper atau senjata yang lain.

Program produksi dengan sistem lisensi seperti itu juga memberikan pengetahuan bagaimana meningkatkan kualitas dan kinerja senjata. Dari sini mereka melakukan adaptasi desain disesuaikan dengan kondisi pemakainya yaitu TNI dengan karakteristik ke-Indonesiaan-nya. Sehingga diproduksilah senapan serbu SSI dengan versi 1, 2, 3 dan 5. Program ini akhirnya terbukti memberikan pelajaran yang berharga bagi PT PINDAD dalam memproduksi senjata dan granat, demikian pengakuan Ir. Bambang Anggoro MM salah satu direktur waktu itu.

Dari pengalaman di atas PT PINDAD kemudian memproduksi versinya sendiri atau modifikasinya baik itu pistol P1 maupun Revolver (RI) dengan menggunakan teknologi balistik berupa laras berulir. Pistol P1 dan P2 kaliber 9 mm dibuat lebih sesuai dengan ergonomik orang Indonesia dan juga dengan memperhatikan dan remodifikasi balistik dalam dan luar pistol tersebut. Pistol ini dirancang beroperasi dari Jerman. Sedangkan untuk produksi mesin perkakas bekerjasama dengan DIAG Group, juga dari Jerman.

Atas permintaan pemerintah, pada tahun 1994, PT PINDAD diminta untuk memproduksi revolver (R1). Dengan melakukan reverse engineering dari produk yang telah ada (Thomson dan Smith & Wetson), mereka mulai mendesain sendiri tanpa bantuan teknis sama sekali. Kemampuan desain mereka sudah memadai terbukti mereka telah menggunakan perangkat lunak CAD/CAM. Setahun kemudian 10 buah prototipe yang sama berhasil dibuat. Setelah melalui serangkaian uji coba yang dilakukan oleh Polri, 8 dari 10 dinyatakan memenuhi syarat. Sementara yang dua lagi dinyatakan tidak memenuhi syarat. Ini menjadi sarana bagi Pindad untuk melakukan pembelajaran. Mereka mencoba mencari kesalahan dan mencoba mengoreksi proses produksinya. Dengan kemampuan di bidang balistik baik dalam maupun luar, akhirnya setahun kemudian mereka berhasil membuat revolver yang memenuhi syarat Polri dan kemudian sekarang menjadi salah satu senjata organik Polri. Revolver tersebut diproduksi dalam dua jenis, laras pendek dan panjang. Revolver ini melakukan tembakan satu kali dan mempunyai sistem pengunci otomatis.

Pindad juga pada tahap ini berhasil melakukan desain bersama dengan CSI (Perusahaan milik Singapura yang juga memiliki kemampuan reverse engineering) dalam membuat automatic grenade launcher (AGL) kaliber 40. Mereka melakukan perjanjian untuk berbagi hasil dalam penjualan. Dengan pertemuan yang singkat (kurang lebih seminggu), Pindad berhasil memproduksi AGL sesuai dengan spesifikasi yang diminta TNI.

Pada awal tahun 1992, PT PINDAD yang telah memiliki kemampuan produksi dan teknologi yang memadai kemudian melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Pada tahap ini, berbagai pengkajian dilakukan bagaimana agar PT PINDAD dapat meningkatkan efisiensinya baik dari aspek produksi maupun organisasi. Dengan menyewa beberapa konsultan, akhirnya disimpulkan bahwa PT PINDAD harus mengubah paradigma dan organisasinya. Diperlukan waktu yang cukup lama untuk merealisasikan rekomendasi konsultan tadi. Di antaranya adalah pembentukan unit bisnis yang mandiri dari segi manajemen dan produksi dan direktorat yang bersifat sentralistik seperti unit litbang dilikuidasi (pada tahun 1998) dan statusnya hanyalah unit kecil yang tugasnya membantu. Divisi-divisi yang ada di PT PINDAD dianggap sebagai unit bisnis yang memiliki produk yang khas. Dan merekalah yang bertanggung jawab terhadap pemasaran, penjualan dan peningkatan kualitas dari produk tersebut Di satu sisi hal ini sangat menguntungkan karena adanya desentralisasi pengambilan keputusan bisnis dan setiap divisi dapat menghitung biaya produksinya secara cermat sehingga dapat dilakukan efisiensi.

Di produk komersial, mereka mencoba membuat connecting rod pada sistem piston Mazda Vantrend. Dengan berbagai modifikasi dan juga bantuan teknis dari Pabrik Mazda di Hiroshima akhirnva mereka mendapat pengakuan untuk memproduksinya. Sayang proyek Mazda Vantrend akhirnya berhenti sebelum Pindad memasok produk conrod-nya. Kepada Federal Motor, Pindad juga sudah menyuplai foot step pada mobil yang diproduksinya.

E. Pengembangan Produk Baru dengan Kegiatan Riset, Desain dan Rekayasa (1996-Sekarang)

Dari kemampuan membuat mesin yang cukup memadai dan didorong akibat krisis ekonomi yang kemudian menyebabkan perubahan politik nasional, PT PINDAD kemudian mencoba melirik pasar baru. Mereka mengembangkan dan membuat mesin kayu Equator yang dapat melakukan 5 jenis pekerjaan seperti memotong, membubut, menyerut, membor dan lain-lain. Mesin sebanyak 35 buah ini dijual ke industri rumah tangga. Krisis ekonomi ternyata merupakan berkah bagi Pindad dan juga BUMMIS pada umumnya karena mereka menjadi lebih rasional dalam perhitungan ekonomisnya.

Dilihat dari teknologi yang ter-embodied di dalam barang modal, Pindad termasuk memiliki tingkat teknologi yang tinggi. Apalagi hal ini ditunjang oleh SDM yang berpengalaman mengoperasikannya. Sebenarnya fasilitas produksi hanya memberikan kontribusi sebesar 40% terhadap nilai produksi. Sedangkan sisanya terletak pada kemampuan SDM di mana yang diperlukan adalah kecerdasan untuk melihat peluang yang ditawarkan oleh pasar. Dalam rangka menangkap peluang inilah, Divisi Rekayasa Industri (Rekin) yang baru berumur satu tahun, namun sudah memiliki kemampuan engineering, procurement dan construction ini (EPC), mencoba mengembangkan pabrik kelapa sawit (CPO Plant) yang berkapasitas 30 ton. Sedangkan prototipe yang sedang dibangun sekarang yang berkapasitas 2 ton.

Apabila berhasil, CPO Plant ini akan mengandung komponen lokal sebanyak 80%, harga jualnya hanya sepertiga dari yang ada sekarang dan pasar yang akan diambil adalah koperasi yang para anggotanya memiliki lahan kelapa sawit seluas puluhan sampai ratusan hektar. Dalam pembuatan CPO Plant ini, Pindad banyak melakukan inovasi dengan membuat sendiri komponen-komponen pentingnya. Mereka membuat screw press ukuran besar sendiri (kapasitas 10 ton dengan panjang 6 meter). Sebelumnya mereka mencoba membelinya dari Malaysia, India dan Belgia. Tetapi harganya mahal dan pasokannya lama, sekitar 6 bulan. Mereka memutuskan untuk membuat sendiri dengan mempelajari desain yang telah ada. Dengan modifikasi sedikit desainnya, mereka berhasil membuatnya dan dipasang di plant tersebut. Selain itu mereka juga mendesain sendiri komponen yang dipakai untuk memotong dan menghancurkan kelapa sawit yang kemudian oleh screw press yang berbentuk ulir kelapa sawit didorong masuk ke dalam proses penggilingan dan pemerasan yang hasil akhirnya adalah CPO. Komponen lain yang juga dikembangkan dan dibuat sendiri adalah purifier. Komponen ini yang biasanya dibuat oleh Westfalia dan Alva Laval ini, dengan reverse engineering dan sedikit modifikasi, Pindad bekerja sama dengan Departemen Teknik Mesin ITB berhasil membuat desain sendiri dan memproduksinya.

Untuk proses selanjutnya mereka kemudian mengembangkan pabrik pengolahan CPO menjadi minyak curah (Refined Bleaching Deodorizing Palm Oil - RBDPO) berkapasitas 25000 liter per hari, yang kalau disaring dan diproses lebih lanjut menghasilkan Olein. Untuk pabrik gula, Pindad juga mendesain dan membuat sisir untuk mengambil ampas tebu yang telah diperas (scrapper). Semua ini didesain sendiri tanpa bantuan teknis dari orang lain.

Setelah mendapat informasi dari salah satu eksportir, PT PINDAD juga mencoba membuat prototipe peti mati modern (yang ada reclining seat-nya) untuk konsumen di Amerika. Ternyata spesifikasi produknya sangat tinggi, PT PINDAD gagal meraih order. Spesifikasinya menghendaki jenis kayu yang khusus dengan tingkat kelembaban tertentu, sambungan antarkayu tidak boleh terlihat dan diekspor dalam bentuk utuh (CBU).

Pengalaman dan kemampuan dalam pembuatan generator dengan Siemens yang terakumulasi membuat pada tahun 1998, Pindad untuk merancang dan membuat sendiri generator dengan tegangan yang lebih rendah yaitu 400 Volt dengan daya 500 kwatt yang drancang untuk pabrik-pabrik industri. Rencananya generator tersebut akan diluncurkan tahun 2002. Perlu waktu sekitar 3 tahun untuk mengembangkannya. Hal ini karena dibutuhkan modifikasi yang cukup besar dalam hal desain dari generator tegangan tinggi ke tegangan rendah. Pindad dengan kemampuan yang telah dimilikinya tersebut juga dalam waktu dekat akan membuat trafo tegangan tinggi. Hal ini karena prinsip dan proses produksi yang dilakukan hampir sama dengan generator. Pindad juga memberikan jasa reparasi generator merek lain. Hal ini memberikan sarana pembelajaran bagi mereka dalam meningkatkan kualitas produk dan teknologi dari generator yang mereka produksi.

Karena secara proses produksi banyak produk militer yang berhimpitan dengan produk sipil seperti misalnya produk otomotif, maka divisi otomotif di PT PINDAD yang tadinya diarahkan pada program mobil nasional Maleo, telah diarahkan kepada pengembangan kendaraan taktis dan tempur (Tactical Combat Vehicle). Kendaraan ini masih pada tahap desain. Jenis kendaraan lain yang sudah melalui tahap pengembangan serta sudah layak dijual adalah water canon yang terutama digunakan untuk pencegahan huru-hara dan penegakan hukum. Badan kendaraan ini didesain sendiri sedangkan diasisnya dibeli dari Isuzu. Diharapkan kebutuhan Polri mampu menyerap produk Pindad ini.

Kreativitas mereka di bidang otomotif juga terlihat. Mereka sudah membuat prototipe baggage towing tractor yaitu mobil yang menarik koper dan barang-barang kargo pesawat terbang. Kemampuan mereka juga sudah memungkinkan untuk membuat kendaraan lapis baja dan anti peluru. Untuk memenuhi pesanan PT Exxon di Aceh, mereka memodifikasi kendaraan Range Rover menjadi kendaraan anti peluru. Mereka juga sudah mulai untuk membuat desain mobil pengangkut uang.

Produk militer berupa senjata hasil modifikasi juga dikembangkan pada tahap ini. Di antaranya adalah senapan mesin sedang (SMS) kaliber 7.62 dan senapan mesin ringan (SMR) kaliber 5.56. Kedua senjata mesin ini dimodifikasi dari senapan serbu SSl. Sekarang ini sedang dilakukan pengujian apakah senjata tersebut dapat memenuhi persyaratan TNI atau tidak.

Penutup

Dari kasus pembelajaran teknologi yang terjadi di PT PINDAD nampak sekali bahwa proses pembelajaran tersebut bukanlah sebagai sebuah proses yang statis, costless dan automatic. Pembelajaran teknologi ternyata adalah proses besar yang dinamis, butuh waktu, biaya dan tidak terjadi secara otomatis. Nampak sekali dari waktu ke waktu terjadi peningkatan kemampuan produksi dan kemampuan teknologi teknologi yang semakin beragam dan semakin canggih dan disertai oleh tahap pembelajaran, mekanisme dan sumber pembelajaran yang semakin lama semakin bervariasi.

Ada usaha serius dan kesengajaan kebijakan untuk mentransformasi PT PINDAD menjadi agen pembelajaran teknologi. Dan dari kasus nampak sekali bahwa pembelajaran teknologi sederhana kadang butuh waktu puluhan tahun jika tidak dilingkupi oleh sistem inovasi nasional yang baik. Yang jelas kemampuan teknologi yang terakumulasi akan mendorong lahirnya kemampuan produksi dan kemampuan teknologi baru yang terus menggelinding membesar menciptakan sumber daya baru yang memungkinkan perusahaan tumbuh dan berkembang.

DR. Zulkieflimansyah, Ph.D
Read more...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...